Seminggu lebih di Manila, baru saya sempat nge-blog. Sibuk banget di sini minggu kemarin. Just to give an idea, hari Jumat malam tanggal 30 Oktober 2009 saya dan teman saya Roy mendarat di Manila. Disambut oleh staf protokoler dan langsung dibawa ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk bertemu dengan Bapak wakil dubes /DCM (Deputy Chief of Mission, Pak Dubes sedang ke Indonesia). Setelah itu, kami dibawa ke flat milik KBRI tempat kami akan tinggal untuk tiga bulan mendatang.
Besoknya, hari Sabtu itu, (ingat, hari Sabtu!) sudah harus masuk. Siang sih, jam 10-an gitu. Kami kembali ketemu Bapak DCM dan ketemu sekretaris II bidang politik. Kami langsung dibawa jalan meninjau rumah-rumah milik KBRI apakah layak pakai karena akan digunakan untuk menampung tamu-tamu yang datang mulai besoknya (hari Minggu, 1 November).
Dan tamu-tamu berdatangan lah. Mulai dari akademisi, pejabat pemerintah, pejabat Deplu, semuanya datang silih berganti. Pejabar Deplunya sendiri mulai dari Pak Sekjen, beberapa dirjen, beberapa direktur, seorang kasubdit sampai staf-staf dalam beberapa rombogan, untuk menghadiri beberapa acara yang terpisah. Semuanya adalah tamu dari Fungsi Politik KBRI. Karena saya mendapatkan pos politik untuk dua minggu pertama saya, maka itu tamu semua menjadi tanggung jawab saya juga. Bahkan Roy pun yang sebenarnya masuk ke fungsi ekonomi diperbantukan ke unit politik khusus karena banyaknya tamu dan acara itu.
Contoh acara misalnya pelaksanaan Forum Diskusi on Democracy and Political Violence: Lessons from Indonesia and Philippines, sampai yang baru saja berakhir Special ASEAN-US Seniors’ Official Meeting (SOM). Saya praktis kebagian tugas untuk menjemput delegasi dari penginapan ke tempat acara ataupun jalan-jalan, meskipun tidak selalu. Antar-jemput ini tentu pakai supir ya, menggunakan mobil KBRI.
Sekalian pemberitahuan bagi yang menganggap pekerjaan diplomat itu cuma sidang, sidang dan sidang, lalu makan enak dan duduk-duduk santai sambil ngobrol atau debat. Apalagi yang oleh karena menganggap demikian lalu ingin masuk Deplu. Salah sama sekali pandangan seperti itu.
Diplomat, apalagi diplomat junior di perwakilan, ya bakal mengalami hal-hal seperti yang saya alami seminggu ini.Menjemput tamu, mengantar tamu lihat-lihat kota, menemani berbelanja, dll. Belum lagi kalau kebagian di fungsi konsuler. Kamu akan mengalami tuh yang namanya jalan ke penjara, kamar mayat, pengadilan, kantor polisi dan tempat-tempat lain yang jauh dari kesan mewah dan glamor, dua kesan yang sering dilekatkan pada profesi diplomat, untuk melindungi dan membantu warga negara kita yang sedang tertimpa musibah. Bahkan sekalipun WNI itu adalah pembunuh, pemerkosa, atau teroris sekalipun, dia harus tetap kita dampingi dan pastikan bahwa dia mendapatkan hak-haknya sebagai terdakwa sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negara itu.
Anyway, kembali ke cerita minggu ini, hari ini (Sabtu, 8 November 2009) saya mengalami sidang pertama saya. Sudah saya sebut di atas, sidangnya adalah sidang Special ASEAN-US Seniors’ Official Meeting (SOM). Saya mulai stand-by di kantor pukul 7.45 pagi, lalu sekitar jam 8 pagi berangkat ke tempat sidang, mulai sidang jam 9 lewat sedikit dan baru beres sekitar jam 5 sore. Di antara waktu itu ada beberapa istirahat lah, dengan satu kali istirahat panjang untuk makan siang.
Bahkan ketika saya harus fokus ke sidang pun, saya masih harus mengurus tamu karena bagaimana pun saya adalah perwakilan KBRI di delegasi itu. Masih ada sih orang KBRI lain yaitu Pak Dubes dan Sek II saya. Tapi hari ini saya diplot untuk mendampingi delegasi RI untuk sidang itu. Jadi ya kalau ada keperluan mereka saya yang pegang. Saking pusingnya, makan siang tadi ga berasa terlalu nikmat buat saya.
But all in all, semua itu menyenangkan kok! Saya beruntung bisa mengalami sidang pertama saya tidak begitu lama semenjak saya menjadi seorang diplomat. Meskipun “cuma” ASEAN, tapi cukup memberikan pengalaman tersendiri lah. Kenapa saya sebut “cuma”? Karena perdebatan dalam sidang ASEAN tidak terlalu terbuka dan frontal, tidak seperti sidang DK PBB, misalnya, atau sidang Dewan HAM PBB, dll.
Bahkan, delegasi AS di SOM yang saya hadiri itu pun sangat akomodatif. Kalau kata direktur yang menjadi wakil ketua delegasi, “Si Scott itu (nama ketua delegasi AS) bae banget mau ngalah (dalam satu isu) karena dia pikir udah terwakili di poin lainnya. Kalau saya sih gak akan mau.”
Apalagi ya? Masa mau saya cerita soal pengalaman jemput tamu ke rumah pak DCM atau ke rumah KBRI dan saya antar lagi ke KBRI atau manapun tempat mereka harus hadir? Atau cerita bagaimana jadwal yang sudah saya pegang bisa berubah sewaktu-waktu dan oleh karenanya menuntut respon yang cepat?
Ga perlu kan ya? Paling selamat lihat-lihat foto di bawah ini atau foto-foto lain di FB saya.
(Malam pertama di Manila. Makan malam di Harbour View Restaurant dengan Wibi dan Pak Sukarsono dari Protokol dan Konsuler)
(Salah satu bagian dinding Intramuros)
(Bekas penjara atau gudang amunisi)
(Penjaga di Intramuros)
Labels: general







Post a Comment
Create a Link
<< Home