Thursday, April 02, 2009
1173: Antara Distrik dan Proporsional

Kurang dari sebulan lagi kita semua pemilih yang terdaftar akan melakukan pencontrengan umum demi memilih wakil-wakil kita yang akan duduk di DPR dan DPRD juga DPD. Itu kalau kita memutuskan untuk mencontreng, hehehe... Well, tapi intinya ya itu, tanggal 9 April (iya kan?) kita akan menganter caleg-caleg itu menjadi legislator beneran.

Sudah tahu mau nyontreng siapa? :P

Saya sih terus terang masih blank, bingung, gamang, dalam menentukan pilihan. Entah kenapa, model kampanye yang dilakukan di Indonesia kurang mengena dan kurang memberikan informasi tentang partai dan caleg peserta pemilu. Kalaupun mau memilih seorang caleg karena rekam jejak politiknya yang terlihat memihak rakyat, dia tidak masuk dapil kita. Kalau mau memilih berdasarkan partai, calegnya enggak ada yang kenal. Semua caleg kampanye, bersaing, dan saling sikut, padahal dari partai yang sama.

Jadi itu sebenarnya masalah dilakukannya sistem proporsional untuk memilih calon legislatif. Sistem ini adalah jawaban dari sistem distrik yang, menurut pendukung sistem proporsional, tidak adil. Apa sih bedanya?

Secara singkat, dalam sistem distrik, sebuah daerah pemilihan hanya bisa memiliki seorang wakil terpilih, sementara dalam sistem proporsional, akan ada beberapa wakil. Artinya, dalam sistem distrik, akan terjadi situasi di mana calon yang mendapatkan suara terbanyak akan mewakili daerah pemilihan tersebut, dan hanya dia yang mewakili daerah pemilihan tersebut, meskipun selisih suara dengan peringkat dua hanya satu suara.

Sementara sistem proporsional situasinya agak rumit. Biasanya dengan metode tertentu akan dihitung terlebih dahulu berapa kursi yang diperebutkan untuk daerah pemilihan tersebut, lalu akan ditentukan juga berapa jumlah suara yang diperlukan untuk merebut sebuah kursi di daerah pemilihan tersebut.

Dengan demikian, dalam sistem distrik akan ada banyak suara yang hilang. Misalnya, dalam sebuah distrik dengan jumlah total pemilih 10.000, seorang caleg mendapatkan suara 5.100 dan caleg lainnya mendapatkan 4.900 suara, maka yang maju mewakili distrik itu di parlemen hanyalah caleg yang menang. Artinya, ada 4.900 pemilih yang tidak memiliki wakil di parlemen.

Sebaliknya, jika dalam sistem proporsional ada sebuah wilayah yang memiliki 100.000 pemilih, dan suara terbagi menjadi 60.000 untuk partai A, 30.000 untuk partai B, dan 10.000 untuk partai C, maka semua suara bisa terwakili di parlemen. Misalnya (ini tergantung bilangan pembagi pemilih), partai A mendapatkan 6 wakil, partai B mendapatkan 3 wakil dan partai C mendapatkan 1 wakil. Dengan demikian, dalam sistem proporsional tidak ada atau sedikit suara yang terbuang.

Masalahnya, ini menurut saya pribadi dan tidak tertera di dalam buku politik yang pernah saya baca dan oleh karena itu sangat terbuka untuk diperdebatkan, kalau memang mau menerapkan sistem proporsional, kita seharusnya tetap mencontreng partai dan bukan orang. Kalau mau mencontreng orang, kita sebaiknya pindahan ke sistem distrik. Kenapa?

Karena ketika kita menjalankan sistem proporsional tapi memilih orang, maka tiap caleg akan berkampanye dan bersaing, bahkan dengan rekannya dari partai yang sama! Padahal, seperti yang sudah sering saya ungkapkan, setiap partai seharusnya memiliki ideologi, dan ideologi itulah yang menentukan nilai-nilai yang akan diperjuangkan caleg. Jadi, semestinya, caleg-caleg dari partai A akan punya program yang kurang lebih sama, sehingga tidak terlalu ngaruh siapa yang menang. Biarin aja deh partai yang menentukan orang-orangnya yang masuk parlemen. Artinya, nama para calegnya memang dipajang ketika pemilu, dengan sistem nomor urut seperti yang terjadi sebelum ini.

Tapi kalau kita memang mau memilih orang, ya mestinya kita bedol desa ke sistem sebelah, distrik. Soalnya, dengan hanya mendapatkan satu kursi per dapil, maka yang terjadi adalah persaingan antarcaleg dari partai yang berbeda. Caleg dari partai A akan membawa nilai-nilai partainya, dan begitu juga dengan caleg dari partai B.

Meski demikian, saya juga mengerti kesulitannya mengadakan sistem distrik dengan jumlah peserta pemilu yang mencapai 34 (iya kan?) partai. Akan ada banyak sekali suara yang terbuang. Tapi inilah sekaligus keuntungan sistem distrik, karena akan mendorong partai-partai yang perbedaannya hanya ideologinya tidak kentara untuk bergabung. Lagipula, dengan cara ini kampanye sebuah partai akan lebih terintegrasi bukannya sporadis seperti yang terlihat selama ini. Maksudnya ya itu, tiap caleg bikin spanduk dan stiker adalah juga buah dari sistem proporsional yang mencontreng calonnya, bukan partainya.

Inti dari tulisan ini adalah, sistem pemilihan umum di Indonesia masih jauh dari sempurna. Sebagai negara yang baru 11 tahun mengecap demokrasi, saya rasa wajarlah kalau kita semua masih meraba-raba sistem yang bagaimana yang cucok dengan kita. Akan ada perbaikan-perbaikan di masa mendatang, saya yakin. Sementara itu, biarpun dengan sistem yang belum sempurna, nyok sukseskan pemilu 2009!

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Important Notice / Penting

First, this blog may contain unsuitable postings for people under 18 years (or under adult age according to your local law). If you're under age and encounter such postings, kindly leave immediately. Second, the entries here are my personal views and opinions and cannot in anyway be taken as the official views, opinions, or standings of the Department of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia or other parties unless specifically mentioned otherwise. / Pertama, blog ini mungkin memuat materi yang hanya cocok untuk usia 18 tahun ke atas (atau usia dewasa menurut hukum setempat). Jika kamu di bawah umur dan menemukan materi seperti itu, silahkan tinggalkan blog ini. Kedua, semua entri di sini adalah pandangan dan pendapat pribadi saya dan sama sekali tidak bisa dianggap sebagai pandangan, pendapat atau posisi resmi Departemen Luar Negeri Indonesia atau pihak-pihak lain kecuali disebutkan sebaliknya secara spesifik.

Not So Secret Facts

Image Hosted by ImageShack.us

Arya Nasoetion, Indonesian, Bogor-Jakarta-Bandung, 1979, Master of Science in European Studies, part-time detective, sometimes a writer, diplomat in the making, world (not American) football maniac, hate to read text books (but have to), crazy about Sherlock Holmes and Kudo Shinichi, admire Himura Kenshin, want to pilot Voltes V just like Gou Kenichi.

Published Works

Image Hosted by ImageShack.us

Published in December of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com


Image Hosted by ImageShack.us

Published in July of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com

Contact Information

To contact me, please send your e-mail to arya.nasoetion@yahoo.com

Profiles

To see my Blogger profile, click here.

To view my Friendster profile, click here.

To view my Goodreads profile, click here

To view my Multiply site, click here

To check my profile at Wikikronologger, click here

Reserved Rights

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 License.

JANGAN ASAL COPY - PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Sideblog by Tumblr

Shouting Place


Free shoutbox @ ShoutMix

For your Information

Where is the name "Can You Keep a Secret?" taken from?

This Blog is named after Utada Hikaru's song, not after Sophie Kinsella's Chicklit.

Why is it called "Can You Keep a Secret?"?

Because you are expected to keep whatever you have read here a secret, especially if the entry is related to my personal experience.

I've seen several themes for this blog. For instance, the World Cup 2006 theme, the Ruthless Zionists theme, the Jack The Ripper theme, and the Sherlock Holmes: Hound of the Baskervilles theme. What is the theme now?

The current theme is still Sherlock Holmes. The picture used for the header is taken from "The Sign of Four" novel. The two persons are Sherlock Holmes and his trustee companion, Dr. Watson. The dog is Toby. "I would rather have Toby's help than that of the whole detective force of London," Holmes states in the novel. You can either read it online, download the story from project Gutenberg, or read the summary in wikipedia.

Who is Sherlock Holmes?

Where do you live all this time? A cave? He is a fictional detective created by Sir Arthur Conan Doyle. I can safely say that he is the most famous detective, fictional or not - alive or dead, in the world. For more details, you can visit Sherlockian.net.

Why do you use this theme for your blog?

Obviously, because I am a fan on Sherlock Holmes. Secondly, because this theme is designed especially for me by Nindya. Thanks a lot, :)

What is the best browser to view this blog?

I'm not sure. Please report bugs if you see them.

How about the screen resolution? What resolution do you recommend to view this blog with?

You would probably want to set your monitor at 1024 * 768 or higher resolution.

Are you are going to make daily entries?

Probably not. Please subscribe to my feed so you won't be missing any up-dates.

Are you going to moderate comments?

Although comments are generally welcomed, but I do reserve the rights to publish or not to publish and to delete a comment (including the ones on the shoutbox). And I don't have to explain my actions to you, thank you very much.

You give the choice to leave anonymous comments in the commenting system. Are you really allowing that? Or did you forget to turn that option off?

I would really appreciate it if you put your name on the comments you make. Having that said, I do recognize your rights to make anonymous comments or to put a fake name on your comments. So, if you feel like doing it, please do. However, I won't be as appreciative to it as I am to the comments made under a real name.

Secret Reading

Secret Pictures

Best Friends Since Forever

Aciedo's Wedding

First Appearance in KSB

From Mangiare to the Moustache Man

Gladi Resik Wisuda

Going Europe

Journal Launching + Contemporary Europe Seminar

Once Upon a Time in Bandung

Second Appearance in KSB + to the Fantasy World

Seminar on the EU, 2005

Wisuda

Please, Don't Keep These a Secret!

Boycott Israel

Palestine Blogs - The Gazette

Freedom of Speech on the Internet!

 

 

Others' Secrets

Visited Sites

Recent Posts

Archives

Affiliations

Powered by Blogger

BlogFam Community

rank blog indonesia

Powered by FeedBurner

Visitors

I feel obliged to tell you that your visit is being tracked. Meaning, I have data about your IP address, what system you are using, what city you are currently in, etc. Meaning, I'll know everything you are doing in here

Visible counter by:

Has been tracking since June 12, 2005

Invisible counter by:

 Subscribe Instead