Monday, March 09, 2009
1171: Hidup dari Uang Rakyat

Semenjak masa prajabatan, sampai saat sekarang Sekdilu sudah berjalan (meskipun pembukaan resmi baru tanggal 11 Maret oleh Bapak Nur Hassan Wirayudha himself), kami telah mendapatkan pembekalan-pembekalan yang penting bagi kehidupan kerja kami di masa depan. Pada masa prajabatan, kami dibekali pengetahuan tentang kepegawainegerian secara umum, sementara sekarang di Sekdilu, kami mendapatkan ilmu mengenai pekerjaan kami sebagai diplomat Indonesia. Biarpun begitu, banyak di antara pengajar baik di prajab sampai di Sekdilu yang menekankan satu hal; kami ada di sini sebagai abdi rakyat. Gaji kami adalah uang rakyat. Fasilitas yang kami nikmati dibiayai dari uang rakyat. Pemberangkatan kami ke luar negeri kelak pun diambil dari uang rakyat.

Tentang itu saya rasa kami semua sudah paham dan mengerti. Bukannya saya bilang kami bosan mendengarnya, karena memang peringatan seperti itu harus selalu diulang-ulang sampai kapan pun, untuk mencegah diri dari alpa. Saya cuma mau bilang bahwa salah seorang pengajar kami di Sekdilu, memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikan hal yang sama. Dan terus terang ini lumayan membuka mata saya.

Saya langsung saja coba tuliskan kira-kira yang dia bilang di kelas kami, "Jangan mentang-mentang kamu diterima di Deplu, terus nanti penempatan di Arab, kamu bersyukur terus sama Tuhan. Shalat teruuus, ibadaaah terus. Jangan karena kamu dapet penempatan di New York kamu terus bersyukur terus sama Tuhan. Biasanya kamu ada di kampung liat sawah sekarang kamu ada di New York kan, jadi kamu tiap hari ke mesjid, kerjaan ga dikerjain. Saya bilang, masuk neraka lu kalau gitu!

"Kamu dikirim ke sana itu pake uang rakyat. Rakyat yang sekarang ada di Pasar Senen keringetan ngangkut beras atau nyupir bus. Kamu dikirim rakyat ke sana supaya kamu bisa mengambil sesuatu dari sana buat mereka, demi kehidupan mereka, bukan cuma buat ibadaaah! Kerjain donk kerjaan kamu!"

Begitu kira-kira kata-kata dia. Semoga jelas dia sama sekali tidak melarang kami ibadah, dia cuma mengingatkan bahwa selain harus bersyukur pada Tuhan, kami juga harus bersyukur pada rakyat Indonesia. Cara bersyukur kepada Tuhan memang dengan meningkatkan ibadah, tapi bersyukur kepada rakyat Indonesia ya dengan kerja donk. Bela kepentingan mereka, jangan cuma setiap hari nongkrong di mushola, ngaji, dzikir.

Lagipula, kerja juga kalau diniatin bener bisa jadi ibadah juga kan? Jadi niat yang harus ditanamkan ketika bekerja adalah demi rakyat Indonesia. Ngapain sih kami-kami ini nanti dikirim ke luar negeri, ngendon di sana selama tiga bulan (pas magang) atau 3 tahun (pas penempatan) kalau bukan demi rakyat Indonesia?

Segera setelah saya masuk Deplu, saya sudah memakan uang rakyat. Dinginnya kantor Pejambon dan ruang kelas, uang makan waktu magang kemarin, internet di Pejambon dan Pusdiklat, bus yang kami pakai untuk ke Ciawi dan Bogor, makan kami di sana, makan kami di Pusdiklat yang sangat terjamin, jas-celana-dua kemeja-dasi pembagian Pusdiklat, name tag dan lencana Pusdiklat yang keren itu, listrik, air, uang untuk membayar pengajar, dan masih banyak lagi, apa bisa saya nikmati kalau bukan karena rakyat? Itulah pentingnya peringatan-peringatan seperti itu terus diulang-ulang sampai kapan pun, kami dari atasan senior, dan nanti kami pun harus mengingatkan junior-junior kami. Tanpa rakyat, kolaps semua departemen-departemen negara. Bisa mati Indonesia.

Saya lihat, rekan-rekan saya memiliki sebuah semangat yang sama; semangat untuk memperbaharui birokrasi Indonesia. Dari mindset feodal ke mindset melayani dan mendahulukan kepentingan rakyat. Terus terang saya kagum pada mereka. Mereka semua masih muda-muda, tapi sangat cerdas dan semangat kerakyatannya pun tinggi. Baru kemarin saya ngobrol-ngobrol ringan dengan seorang rekan saya (dia yang paling muda, btw, dan saya adalah salah satu yang paling senior, hehehe..) mengenai dampak FTA di ASEAN terhadap tukang becak (dll) di Indonesia dan bagaimana cara melindungi mereka. Itu obrolan makan siang ya, pada saat santai dan bukan obrolan di kelas yang tentu saja memang diset untuk hal-hal "berat" seperti itu.

Jadi, proses rekrutmen Deplu memang pantas mendapatkan pujian dari berbagai pihak, termasuk Bank Dunia. Bahkan seleksi tahun 2008 itu mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008. Manusia Indonesia yang berhasil lolos dari seleksi tahun 2008 kemarin betul-betul memiliki kapabilitas dan niat yang baik untuk negara. Dengan demikian, semoga uang rakyat yang dipakai untuk membiayai kami-kami ini pun tidak akan terbuang percuma, semoga kami ini adalah investasi jangka panjang yang tepat untuk kebaikan bangsa dan negara Republik Indonesia. Amien.

Labels:

11 Comments:
At Monday, March 09, 2009 7:44:00 PM
Blogger Chandra Wright said...

i wish you all will do things much better for indonesia's future.. :D abisan dah bosen denger korupsi dan kampanye yang gak berenti2 tapi makin menjamur :)

 
At Monday, March 09, 2009 9:06:00 PM
Blogger AryaNst said...

Amiiienn...

Minta doa-nya Mbak... :)

 
At Wednesday, March 11, 2009 9:11:00 AM
Anonymous Anonymous said...

Keep those things in your heart, not your mind

 
At Wednesday, March 11, 2009 1:53:00 PM
Blogger Astrid said...

hmmpf..termasuk coffee break 2 kali sehari ya man huhuhu....

..semoga angkatan gw taun ini dapet sertifikat ISO juga..hooo..AMIN. (apalagi ada gw ya man..sertifikat manusia ramah lingkungan dan anti rabies pun dapet hihihihihi)

 
At Thursday, March 12, 2009 7:17:00 AM
Blogger AryaNst said...

Yup Ciedo, dua kali sehari... Hehehe... bikin PMK (perut mendahului karir), huehehehehe... Makanya ada beberapa yang ga makan cemilan yang disediain di coffee break (cuma minum doank), karena berat badan udah mulai naek. Roy adalah salah satunya, huehehehehe...

 
At Monday, March 30, 2009 7:56:00 AM
Blogger CIAO ITALIA! said...

congrats buat generasi deplu skrng.

yg gw liat di embassy2 indonesia, pemagang dan junior harus *melayani* pegawai tua.

di kbri Roma, yg muda kerja keras sementara yg tuwir cuma tanda tangan dokumen, makan siang, makan malem, dan jalan penjuru eropa.

yg muda pinter2, multilingual, upahnya paling kecil. yg bandot, bahasa inggrispun masih kelepotan, bahasa Eropa lainnya ZERO, tapi apartemennya bagus.

salam

Gama
Ciao Italia

 
At Tuesday, March 31, 2009 11:29:00 PM
Blogger AryaNst said...

Gua rasa sih bukan "melayani pegawai tua" ya, tapi ada rantai komando kan dari atas ke bawah? Itu yang terjadi.

Soal yang senior cuma ttd dokumen, terus makan dan jalan, itu part of their jobs. Lobi-lobi itu lebih efektif kalau dilakukan over dinner atau a game of golf, daripada kalau dilakukan di belakang meja dengan atmosfer serius. Soalnya, kalau sambil makan malam dan maen golf itu pendekatannya personal.

Well, yang lebih duluan masuk memang gajinya udah lebih gede kan? Soal yang lebih senior kemampuannya kalah, gua terus terang ga bisa komen, karena mungkin lu memang ketemu yang seperti itu di sana. Yang jelas, dubes-dubes yang ngajar kami ini di Pusdiklat Bahasa Inggrisnya bagus-bagus, dan mereka punya bahasa kedua, ketiga bahkan keempat yang sama fasihnya.

Atau mungkin biarpun bahasa Eropa lainnya ga ada, dia bisa bahasa lain? Soalnya, di Deplu sekarang ini memang belum ada pengkhususan kawasan bagi diplomat-diplomatnya. Maksudnya, bisa aja diplomat yang penempatan pertama di Eropa, tiba-tiba dapet Asia di penempatan kedua.

Sudah beberapa angkatan ini, diplomat barunya diusahakan untuk bisa spesialisasi pada satu kawasan. Kalau itu terjadi, insya Allah diplomat yang penempatan di Eropa minimal bisa bahasa Inggris dan Prancis, dan di Asia Timur bahasa Korea dan Jepang.

 
At Wednesday, April 01, 2009 3:35:00 PM
Blogger Dian said...

well... cuma bisa berharap idealisme di masa pendidikan itu ga berubah di masa penempatan... :)

 
At Wednesday, April 01, 2009 11:48:00 PM
Blogger AryaNst said...

Le chat noir?

Amiin... Kami juga mengharapnya gitu Mbak...

 
At Wednesday, April 08, 2009 1:56:00 AM
Anonymous Arief Ilham Ramadhan said...

mari berjuang kawan,, ;)

 
At Friday, April 10, 2009 4:41:00 PM
Blogger AryaNst said...

Mari :)

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Important Notice / Penting

First, this blog may contain unsuitable postings for people under 18 years (or under adult age according to your local law). If you're under age and encounter such postings, kindly leave immediately. Second, the entries here are my personal views and opinions and cannot in anyway be taken as the official views, opinions, or standings of the Department of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia or other parties unless specifically mentioned otherwise. / Pertama, blog ini mungkin memuat materi yang hanya cocok untuk usia 18 tahun ke atas (atau usia dewasa menurut hukum setempat). Jika kamu di bawah umur dan menemukan materi seperti itu, silahkan tinggalkan blog ini. Kedua, semua entri di sini adalah pandangan dan pendapat pribadi saya dan sama sekali tidak bisa dianggap sebagai pandangan, pendapat atau posisi resmi Departemen Luar Negeri Indonesia atau pihak-pihak lain kecuali disebutkan sebaliknya secara spesifik.

Not So Secret Facts

Image Hosted by ImageShack.us

Arya Nasoetion, Indonesian, Bogor-Jakarta-Bandung, 1979, Master of Science in European Studies, part-time detective, sometimes a writer, diplomat in the making, world (not American) football maniac, hate to read text books (but have to), crazy about Sherlock Holmes and Kudo Shinichi, admire Himura Kenshin, want to pilot Voltes V just like Gou Kenichi.

Published Works

Image Hosted by ImageShack.us

Published in December of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com


Image Hosted by ImageShack.us

Published in July of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com

Contact Information

To contact me, please send your e-mail to arya.nasoetion@yahoo.com

Profiles

To see my Blogger profile, click here.

To view my Friendster profile, click here.

To view my Goodreads profile, click here

To view my Multiply site, click here

To check my profile at Wikikronologger, click here

Reserved Rights

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 License.

JANGAN ASAL COPY - PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Sideblog by Tumblr

Shouting Place


Free shoutbox @ ShoutMix

For your Information

Where is the name "Can You Keep a Secret?" taken from?

This Blog is named after Utada Hikaru's song, not after Sophie Kinsella's Chicklit.

Why is it called "Can You Keep a Secret?"?

Because you are expected to keep whatever you have read here a secret, especially if the entry is related to my personal experience.

I've seen several themes for this blog. For instance, the World Cup 2006 theme, the Ruthless Zionists theme, the Jack The Ripper theme, and the Sherlock Holmes: Hound of the Baskervilles theme. What is the theme now?

The current theme is still Sherlock Holmes. The picture used for the header is taken from "The Sign of Four" novel. The two persons are Sherlock Holmes and his trustee companion, Dr. Watson. The dog is Toby. "I would rather have Toby's help than that of the whole detective force of London," Holmes states in the novel. You can either read it online, download the story from project Gutenberg, or read the summary in wikipedia.

Who is Sherlock Holmes?

Where do you live all this time? A cave? He is a fictional detective created by Sir Arthur Conan Doyle. I can safely say that he is the most famous detective, fictional or not - alive or dead, in the world. For more details, you can visit Sherlockian.net.

Why do you use this theme for your blog?

Obviously, because I am a fan on Sherlock Holmes. Secondly, because this theme is designed especially for me by Nindya. Thanks a lot, :)

What is the best browser to view this blog?

I'm not sure. Please report bugs if you see them.

How about the screen resolution? What resolution do you recommend to view this blog with?

You would probably want to set your monitor at 1024 * 768 or higher resolution.

Are you are going to make daily entries?

Probably not. Please subscribe to my feed so you won't be missing any up-dates.

Are you going to moderate comments?

Although comments are generally welcomed, but I do reserve the rights to publish or not to publish and to delete a comment (including the ones on the shoutbox). And I don't have to explain my actions to you, thank you very much.

You give the choice to leave anonymous comments in the commenting system. Are you really allowing that? Or did you forget to turn that option off?

I would really appreciate it if you put your name on the comments you make. Having that said, I do recognize your rights to make anonymous comments or to put a fake name on your comments. So, if you feel like doing it, please do. However, I won't be as appreciative to it as I am to the comments made under a real name.

Secret Reading

Secret Pictures

Best Friends Since Forever

Aciedo's Wedding

First Appearance in KSB

From Mangiare to the Moustache Man

Gladi Resik Wisuda

Going Europe

Journal Launching + Contemporary Europe Seminar

Once Upon a Time in Bandung

Second Appearance in KSB + to the Fantasy World

Seminar on the EU, 2005

Wisuda

Please, Don't Keep These a Secret!

Boycott Israel

Palestine Blogs - The Gazette

Freedom of Speech on the Internet!

 

 

Others' Secrets

Visited Sites

Recent Posts

Archives

Affiliations

Powered by Blogger

BlogFam Community

rank blog indonesia

Powered by FeedBurner

Visitors

I feel obliged to tell you that your visit is being tracked. Meaning, I have data about your IP address, what system you are using, what city you are currently in, etc. Meaning, I'll know everything you are doing in here

Visible counter by:

Has been tracking since June 12, 2005

Invisible counter by:

 Subscribe Instead