Semenjak masa prajabatan, sampai saat sekarang Sekdilu sudah berjalan (meskipun pembukaan resmi baru tanggal 11 Maret oleh Bapak Nur Hassan Wirayudha himself), kami telah mendapatkan pembekalan-pembekalan yang penting bagi kehidupan kerja kami di masa depan. Pada masa prajabatan, kami dibekali pengetahuan tentang kepegawainegerian secara umum, sementara sekarang di Sekdilu, kami mendapatkan ilmu mengenai pekerjaan kami sebagai diplomat Indonesia. Biarpun begitu, banyak di antara pengajar baik di prajab sampai di Sekdilu yang menekankan satu hal; kami ada di sini sebagai abdi rakyat. Gaji kami adalah uang rakyat. Fasilitas yang kami nikmati dibiayai dari uang rakyat. Pemberangkatan kami ke luar negeri kelak pun diambil dari uang rakyat.
Tentang itu saya rasa kami semua sudah paham dan mengerti. Bukannya saya bilang kami bosan mendengarnya, karena memang peringatan seperti itu harus selalu diulang-ulang sampai kapan pun, untuk mencegah diri dari alpa. Saya cuma mau bilang bahwa salah seorang pengajar kami di Sekdilu, memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikan hal yang sama. Dan terus terang ini lumayan membuka mata saya.
Saya langsung saja coba tuliskan kira-kira yang dia bilang di kelas kami, "Jangan mentang-mentang kamu diterima di Deplu, terus nanti penempatan di Arab, kamu bersyukur terus sama Tuhan. Shalat teruuus, ibadaaah terus. Jangan karena kamu dapet penempatan di New York kamu terus bersyukur terus sama Tuhan. Biasanya kamu ada di kampung liat sawah sekarang kamu ada di New York kan, jadi kamu tiap hari ke mesjid, kerjaan ga dikerjain. Saya bilang, masuk neraka lu kalau gitu!
"Kamu dikirim ke sana itu pake uang rakyat. Rakyat yang sekarang ada di Pasar Senen keringetan ngangkut beras atau nyupir bus. Kamu dikirim rakyat ke sana supaya kamu bisa mengambil sesuatu dari sana buat mereka, demi kehidupan mereka, bukan cuma buat ibadaaah! Kerjain donk kerjaan kamu!"
Begitu kira-kira kata-kata dia. Semoga jelas dia sama sekali tidak melarang kami ibadah, dia cuma mengingatkan bahwa selain harus bersyukur pada Tuhan, kami juga harus bersyukur pada rakyat Indonesia. Cara bersyukur kepada Tuhan memang dengan meningkatkan ibadah, tapi bersyukur kepada rakyat Indonesia ya dengan kerja donk. Bela kepentingan mereka, jangan cuma setiap hari nongkrong di mushola, ngaji, dzikir.
Lagipula, kerja juga kalau diniatin bener bisa jadi ibadah juga kan? Jadi niat yang harus ditanamkan ketika bekerja adalah demi rakyat Indonesia. Ngapain sih kami-kami ini nanti dikirim ke luar negeri, ngendon di sana selama tiga bulan (pas magang) atau 3 tahun (pas penempatan) kalau bukan demi rakyat Indonesia?
Segera setelah saya masuk Deplu, saya sudah memakan uang rakyat. Dinginnya kantor Pejambon dan ruang kelas, uang makan waktu magang kemarin, internet di Pejambon dan Pusdiklat, bus yang kami pakai untuk ke Ciawi dan Bogor, makan kami di sana, makan kami di Pusdiklat yang sangat terjamin, jas-celana-dua kemeja-dasi pembagian Pusdiklat, name tag dan lencana Pusdiklat yang keren itu, listrik, air, uang untuk membayar pengajar, dan masih banyak lagi, apa bisa saya nikmati kalau bukan karena rakyat? Itulah pentingnya peringatan-peringatan seperti itu terus diulang-ulang sampai kapan pun, kami dari atasan senior, dan nanti kami pun harus mengingatkan junior-junior kami. Tanpa rakyat, kolaps semua departemen-departemen negara. Bisa mati Indonesia.
Saya lihat, rekan-rekan saya memiliki sebuah semangat yang sama; semangat untuk memperbaharui birokrasi Indonesia. Dari mindset feodal ke mindset melayani dan mendahulukan kepentingan rakyat. Terus terang saya kagum pada mereka. Mereka semua masih muda-muda, tapi sangat cerdas dan semangat kerakyatannya pun tinggi. Baru kemarin saya ngobrol-ngobrol ringan dengan seorang rekan saya (dia yang paling muda, btw, dan saya adalah salah satu yang paling senior, hehehe..) mengenai dampak FTA di ASEAN terhadap tukang becak (dll) di Indonesia dan bagaimana cara melindungi mereka. Itu obrolan makan siang ya, pada saat santai dan bukan obrolan di kelas yang tentu saja memang diset untuk hal-hal "berat" seperti itu.
Jadi, proses rekrutmen Deplu memang pantas mendapatkan pujian dari berbagai pihak, termasuk Bank Dunia. Bahkan seleksi tahun 2008 itu mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008. Manusia Indonesia yang berhasil lolos dari seleksi tahun 2008 kemarin betul-betul memiliki kapabilitas dan niat yang baik untuk negara. Dengan demikian, semoga uang rakyat yang dipakai untuk membiayai kami-kami ini pun tidak akan terbuang percuma, semoga kami ini adalah investasi jangka panjang yang tepat untuk kebaikan bangsa dan negara Republik Indonesia. Amien.
Labels: work







i wish you all will do things much better for indonesia's future.. :D abisan dah bosen denger korupsi dan kampanye yang gak berenti2 tapi makin menjamur :)
Amiiienn...
Minta doa-nya Mbak... :)
Keep those things in your heart, not your mind
hmmpf..termasuk coffee break 2 kali sehari ya man huhuhu....
..semoga angkatan gw taun ini dapet sertifikat ISO juga..hooo..AMIN. (apalagi ada gw ya man..sertifikat manusia ramah lingkungan dan anti rabies pun dapet hihihihihi)
Yup Ciedo, dua kali sehari... Hehehe... bikin PMK (perut mendahului karir), huehehehehe... Makanya ada beberapa yang ga makan cemilan yang disediain di coffee break (cuma minum doank), karena berat badan udah mulai naek. Roy adalah salah satunya, huehehehehe...
congrats buat generasi deplu skrng.
yg gw liat di embassy2 indonesia, pemagang dan junior harus *melayani* pegawai tua.
di kbri Roma, yg muda kerja keras sementara yg tuwir cuma tanda tangan dokumen, makan siang, makan malem, dan jalan penjuru eropa.
yg muda pinter2, multilingual, upahnya paling kecil. yg bandot, bahasa inggrispun masih kelepotan, bahasa Eropa lainnya ZERO, tapi apartemennya bagus.
salam
Gama
Ciao Italia
Gua rasa sih bukan "melayani pegawai tua" ya, tapi ada rantai komando kan dari atas ke bawah? Itu yang terjadi.
Soal yang senior cuma ttd dokumen, terus makan dan jalan, itu part of their jobs. Lobi-lobi itu lebih efektif kalau dilakukan over dinner atau a game of golf, daripada kalau dilakukan di belakang meja dengan atmosfer serius. Soalnya, kalau sambil makan malam dan maen golf itu pendekatannya personal.
Well, yang lebih duluan masuk memang gajinya udah lebih gede kan? Soal yang lebih senior kemampuannya kalah, gua terus terang ga bisa komen, karena mungkin lu memang ketemu yang seperti itu di sana. Yang jelas, dubes-dubes yang ngajar kami ini di Pusdiklat Bahasa Inggrisnya bagus-bagus, dan mereka punya bahasa kedua, ketiga bahkan keempat yang sama fasihnya.
Atau mungkin biarpun bahasa Eropa lainnya ga ada, dia bisa bahasa lain? Soalnya, di Deplu sekarang ini memang belum ada pengkhususan kawasan bagi diplomat-diplomatnya. Maksudnya, bisa aja diplomat yang penempatan pertama di Eropa, tiba-tiba dapet Asia di penempatan kedua.
Sudah beberapa angkatan ini, diplomat barunya diusahakan untuk bisa spesialisasi pada satu kawasan. Kalau itu terjadi, insya Allah diplomat yang penempatan di Eropa minimal bisa bahasa Inggris dan Prancis, dan di Asia Timur bahasa Korea dan Jepang.
well... cuma bisa berharap idealisme di masa pendidikan itu ga berubah di masa penempatan... :)
Le chat noir?
Amiin... Kami juga mengharapnya gitu Mbak...
mari berjuang kawan,, ;)
Mari :)
Post a Comment
Create a Link
<< Home