Mengamati kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang baru Hillary Clinton ke Indonesia sangat menarik karena beberapa alasan. Pertama-tama haruslah diingat bahwa Wakil Presiden Joe Biden memberitahukan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa hadirnya Ny. Clinton di Indonesia adalah atas petunjuk langsung dari Mr Obama. Semula, Clinton hanya akan mengadakan lawatan ke Jepang, Korsel dan Cina. Tapi setelah diingatkan oleh Obama agar jangan melewatkan Indonesia dalam lawatannya tersebut, jadilah Jakarta kota kedua yang dikunjungi.
Setelah mengingat hal tersebut di atas, maka berikutnya kita harus mencoba mengingat lagi janji-janji Obama pada saat pidato kemenangannya dan pada saat inagurasinya, terutama tentang hubungan luar negeri. Terutama lagi tentang hubungan AS dengan dunia Islam. Dari pidato-pidatonya tersebut, bisa terlihat niatan Obama untuk memperbaiki hubungan dengan dunia muslim. Kebetulan, Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Kebetulan lagi, Obama menghabiskan empat tahun masa kecilnya di Jakarta. Tidak heran jika Obama mengingatkan Clinton untuk "mampir" ke Indonesia, karena semuanya klop. Di satu sisi dia mulai membangun jembatan AS-Islam yang hancur lebur diluluhlantakkan bom-bom di Irak dan Afghanistan, di sisi lain dia juga membuat senang Indonesia (mungkin memanjakan ingatan masa kecilnya juga) karena orang Indonesia akan berpikir, "Lihat, Obama masih ingat kepada kita!"
Memperbaiki citra AS yang kadung hancur-lebur tidaklah mudah. Orang biasa melihat AS menggunakan kekuatan militernya, dan bukan kekuatan diplomasi. Biasanya Dephan AS akan lebih duluan menyalak, sebelum akhirnya Deplu mereka berupaya memadamkan gejolak kemarahan masyarakat dunia gara-gara aksi Dephan tersebut atau justru membela langkah militer adidaya mereka di negara-negara periphery yang sebenarnya sangat tidak proporsional sebagai sparring partner Paman Sam. Perlu sebuah langkah baru dalam diplomasi ini, yang membuatnya lain daripada yang lain. Mengunjungi sekolahan saja tidaklah cukup, apalagi karena Menlu Condoleeza Rice pun melakukan kunjungan ke sekolah pada saat dia menjabat sebagai menlu. Jadi apa?
Dulu saya pernah membuat perbandingan antara kunjungan PM Inggris (saat itu) Tony Blair dengan kunjungan Rice. Salah satu aspek yang saya perbandingkan adalah kekuatan pengamanan dua tokoh penting tersebut. Saya ingat, pengamanan Rice dilakukan dengan sangat berlebih dan mencolok. Seorang marinir AS bahkan menodongkan senapan serbunya ke arah kamerawan, dari MetroTV kalau saya tidak salah. Sebaliknya pengamanan terhadap Blair tidak begitu mencolok, meskipun saya yakin pengamanannya lebih ketat, karena Blair adalah kepala pemerintahan sementara Rice "cuma"menteri.
Kali ini saya melihat pengamanan untuk Clinton tidak berlebihan. Setidaknya, saya tidak melihat berita yang membuat saya berpikir bahwa dia adalah seorang paranoid karena pengamanan yang ekstra parno. Rasanya sih, semua wajar saja. Kalau pun sampai ada pemblokiran sinyal di daerah Halim, Pejambon dan tempat-tempat lain yang dikunjungi, rasanya itu sudah menjadi SOP bagi pengamanan VVIP di mana saja. Jadi, untuk poin ini Amerika sudah membuat kemajuan.
Tapi rasanya kejutan yang lumayan besar dari kunjungan Clinton adalah hadirnya dia di acara musik Dahsyat yang dipandu oleh Luna Maya, Olga dan Raffi Ahmad. Meskipun ketika wawancara dua nama terakhir tidak hadir (diganti oleh Isyana Bagus Oka kalau tidak salah), dan wawancara itu tidak dilakukan secara langsung, tapi tetap saja kejadian itu lumayan mengejutkan. Buktinya, hampir seluruh 60 calon diplomat muda Indonesia yang sedang pendidikan di Pusdiklat (60 orang lainnya sedang mengikuti diklat lain) bersemangat untuk melihat acara tersebut, meskipun akhirnya harus kecewa karena penerimaan gambar televisi di ruang kelas tidak begitu baik.
Melihat seorang menteri luar negeri sebuah negara adikuasa di suatu acara yang tidak bersifat resmi (bukan acara temu bincang Kick Andy misalnya), apalagi acaranya itu adalah acara musik (pembawa acaranya ngocol pula), mungkin di luar dugaan banyak orang. Bahasa kerennya, "Beyond everybody's craziest dreams!". Hanya saja, kalau dipikir-pikir, baik disengaja atau tidak hadirnya Cinton di acara tersebut sinkron dengan upaya Obama untuk merubah citra Amerika dari citra yang menyeramkan dan galak menjadi citra bersahabat dan ramah. Musik hampir selalu bersifat dinamis (kecuali musik klasik yang sering dianggap kaku) dan acara bincang-bincang hampir selalu dianggap statis (kecuali Bukan Empat Mata yang justru menjual kekonyolan). Ditambah lagi, acara musik "Dahsyat" ditonton oleh anak-anak muda, yang lagi-lagi bersifat dinamis sementara bincang-bincang hampir selalu identik dengan orang-orang serius yang menyukai topik-topik berat.
Apapun itu, kehadiran Clinton mampu memberikan kita sedikit preview tentang peranan Amerika Serikat di dunia untuk empat tahun mendatang. Hanya saja, sama seperti film, preview bisa menipu. Ada film yang sebenarnya butut tapi karena preview-nya bagus maka film itu ditunggu banyak orang (dan kemudian mereka kecewa setelah menontonnya karena aslinya tidak sebanding dengan iklan). Sebaliknya, ada juga film-film keren yang menjadi tidak laku hanya karena preview-nya tidak digarap secara baik. Untuk itu, saya memberikan tepuk tangan dan apresiasi yang besar terhadap preview Hillary Clinton yang tergolong nendang. Tetapi sekali lagi, masih terlalu dini untuk menilai keseluruhan episode tentang Amerika yang baru di bawah Obama.
Labels: internasional, Nasional, politik







Post a Comment
Create a Link
<< Home