Saya sekarang ini bahkan belum menjadi pegawai negeri. Baru calon. Masa iya negara tiba-tiba mengirimkan saya ke luar negeri? Enggak lah. Jadi urutannya, setelah diterima, kami harus magang di Pejambon selama 3 minggu dulu di salah satu direktorat Deplu. Saya sendiri ditempatkan di Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa (Ditjen Amerop), Direktorat Eropa Barat (Dit Erbar). Mula-mula saya di Subdit V yang menangani negara-negara Nordik dan Baltik, tapi lalu ada perubahan struktur sehingga subdit saya berubah menangani isu-isu Polkumkamham dan Kewarganegaraan untuk negara-negara Perancis, Andora, Monaco, Swiss, Liechtenstein, Jerman, Austria, Denmark, Norwegia, Swedia, Islandia, Finlandia, Yunani dan Turki.
Setelah tiga minggu di sini, kami akan memulai masa prajabatan pada bulan Februari di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat), dan akan berlangsung selama dua minggu. Barulah setelahnya kami memulai pendidikan yang disebut dengan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Itu mungkin berlangsung 7 - 8 bulan di tempat yang sama.
Lulus dari situ, barulah kami akan diterbangkan ke luar negeri. Tapi itu pun bukan penempatan, hanya sekadar magang. Kalau penempatan itu biasanya untuk 3 - 4 tahun, sementara kami magang hanya untuk 3 bulan saja. Pulang dari magang, kami akan masuk Pejambon lagi untuk menunggu penempatan pertama. Katanya, normalnya penempatan pertama akan dilakukan empat tahun setelah Sekdilu dimulai. Jadi, kalau semua berjalan lancar, penempatan pertama saya ya masih jauh, pertengahan 2013.
Jadi ya enggak benar kalau ada anggapan setelah saya masuk Deplu saya tiba-tiba dapat pos luar negeri.
Begitu juga soal pendapatan. Meskipun nantinya saya akan menyandang pekerjaan "diplomat", toh saya tetap saja pegawai negeri sipil. Di dalam negeri ya gaji saya standar PNS. Apalagi kalau kamu tahu jumlah uang saku yang akan saya dapatkan selama pendidikan Sekdilu nanti. Duuuh, miris banget! Tapi enggak apa-apa, saya anggap itu adalah perjuangan dulu untuk meraih cita-cita saya.
Di luar negeri memang para diplomat mendapatkan gaji dalam dolar, yang besarnya disesuaikan dengan tingkat biaya hidup di negara tersebut. Tapi ya bukan berarti pasti makmur, kok. Contohnya, saya mendengar cerita dari senior saya yang angkatan 31 (saya angkatan 34) bahwa sepulang magang ada temannya yang pulang hanya membawa 200 Dolar saja. Tapi di sisi lain, senior saya yang lain bilang bahwa kalau mau menghemat betul-betul, maka pulang magang bisa saja seorang diplomat membawa uang sekitar 8000 Dolar, meskipun tergantung juga dari negara penempatannya.
Jadi, semuanya itu tergantung bagaimana kami mengatur keuangan kami, kok. Hanya saja, harus saya akui kalau saya berniat menabung agak banyak pas magang nanti. Buat modal nikah, hehehe...
Omong-omong soal pendapatan, Mas Hari, dosen penguji tesis saya, pernah bilang ke saya, "Saya seneng banget lho kamu masuk Deplu. Di Deplu kamu nanti hidup cukuplah, gak perlu korupsi." Amiiin...! He should know. Istrinya adalah seorang diplomat.
Jadi sekali lagi, berapapun pendapatan para diplomat, terutama ketika penempatan di perwakilan Indonesia di luar negeri, ya semua kembali lagi ke cara hidup dan kemampuan mengatur keuangan. Kalau hidupnya mau dibikin foya-foya, ya gaji segimana juga amblas aja gak bisa nabung untuk anak-istri. Ujung-ujungnya korupsi... Hiii... Amit-amit.
Labels: work







hoho...bener banged. kerja di deplu kalo ga pinter2 nabung ketika penempatan, pas pulang kere. itu pun ada prinsip, di luar negeri nabung, di negeri sendiri makan tabungan hahaha...
makanya nanti jangan lupa buka toko sama gua ya hahahaha..
Toko cokelat kan? Hehehehe.. Siiip :D
mudahan inggris jadi negara tujuan..! *fingers crossed mode on*
(blockquote)Di Deplu kamu nanti hidup cukuplah, gak perlu korupsi.(/blockquote)
kaya'nya masuk dep mana pun juga hidup cukup, gak perlu korupsi, kalo jiwa bersih :D..
masalahnya kalo udah masuk PNS, siapa yang jamin jiwa bersin :P /jk
@Mbak Chandra: Di mana aja saya sih siap, Mbak, hehehe... Namanya juga PNS.
@Snydez: Masa sih? Gaji guru gitu cukup teh buat hidup berkecukupan? Kalau masalah jiwa bersih, gak cuma PNS aja kali yang ga bisa dijamin kebersihan jiwanya :P
Post a Comment
Create a Link
<< Home