Kamu tahu ada sebuah bus yang sangat menarik untuk dinaiki? Bus berwarna biru dengan gambar bola dunia di kedua sisinya, dengan tulisan Caraka Bhuwana di atas bola dunia itu. Dari dalam bus itu, kamu bisa melihat dunia. Dari dalam bus itu, kamu bisa membuat perdamaian tapi juga bisa menciptakan perang. Menaiki bus itu, kamu bisa bertemu orang dari berbagai bangsa dengan budaya yang berbeda. Begitu istimewanya bus itu, dia hanya bisa dinaiki oleh orang-orang pilihan, orang-orang yang selain punya kemampuan juga punya kemauan untuk naik.
Tahun 1997 menandai awal perjuangan saya untuk menaiki bus tersebut. Tahun itu menjadi awal upaya saya untuk terus menambah kemampuan saya agar saya bisa mengejar bus yang sangat sulit untuk dikejar tersebut. Tahun terus belalu tanpa terasa. Saya terus berupaya menambah kemampuan. Sampai akhirnya tahun 2003 saya berharap kemampuan saya sudah cukup untuk bisa mendapatkan tempat di dalam bus tersebut. Saya tunggu bus itu lewat. Saya dan banyak orang lain. Dan ya, dia melintas di depan kami! Saatnya tiba, saya melompat maju. Apa daya, ternyata ketika saya baru saja hendak berlari, saya tersandung dan jatuh. Dalam pengejaran ini sekali kau terjatuh tamatlah sudah, karena itu artinya bus sudah akan melaju sangat jauh, meninggalkanmu dan orang-orang lain yang juga bernasib serupa. Saya hanya bisa termenung dari jauh, memperhatikan beberapa orang teman pada akhirnya berhasil menaiki bus tersebut.
Tahun 2004 saya memutuskan bahwa kemampuan saya harus dibawa ke jenjang yang lebih tinggi. Kembali saya berlatih. Kembali saya menghadapi pelatihan yang panjang. Tahun 2007 saya tahu saya sudah siap untuk berlari lagi. Tapi saya gagal berlari hanya karena saya tidak memegang sebuah kertas sakti. Kertas itulah yang akan memberimu hak untuk ikut berlari. Tanpa kertas sakti itu, saya bahkan tidak bisa ikut berlari. Saya harus menunggu di pinggir jalan, melihat para pelari yang begitu bersemangat bus biru yang kembali lewat.
Ketika saya menunggu, saya mendengar kabar bahwa bus itu sudah terlalu disesaki penumpang. Sehingga, bus itu tidak akan mencari penumpang baru sampai ada penumpang lama turun. Selama itu pula saya berharap kabar itu tidak benar. Sungguh sial sekali saya kalau sampai kabar itu benar!
Untunglah berita itu tidak benar. Tahun 2008, bus itu lewat lagi. Kali ini kertas sakti sudah di tangan. Saya segera berlari mengejarnya. Ribuan orang berlari bersama saya ketika itu. Tak sedikit yang tersandung ketika baru akan berlari seperti saya dulu. Mereka terjatuh. Tapi tidak saya. Kali ini saya berhasil mempertahankan diri dan membuat start. Tak lama kemudian ada jalan menanjak. Terjaaal sekali. Saya sempat berpikir saya tidak akan berhasil melampauinya. Tapi untunglah ternyata saya mampu, di saat banyak saingan yang kehabisan nafas dan duduk kelelahan terengah-engah.
Saya semakin kencang berlari. Saya dan masih banyak lagi. Jarak kami dengan bus itu semakin dekat, ketika lagi-lagi jalan bergelombang membuat banyak di antara kami kehilangan pijakan. Berjatuhanlah orang-orang di sekitar saya. Kali ini, keseimbangan saya sangat terjaga, sehingga saya tetap bisa berlari dan terus meningkatkan kecepatan bersama orang-orang yang jumlahnya sudah lebih sedikit.
Bus itu kini berada dalam jangkauan tangan. Asap knalpotnya saja sudah terasa panas, kadang terhirup membuat nafas sesak. Akan sangat menyebalkan sekali kalau saya harus pingsan di sini, di saat sudah begitu dekat. Bau keringat kondekturnya pun sudah bisa saya cium! Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang-orang di sekitar saya pingsan. Jatuh. Tumbang. Kalau tidak ingat bahwa saya sudah mulai mengejar bus ini dari tahun 1997, mungkin saya pun akan menyerah kalah. Ketika pandangan mulai berkunang-kunang saya segera berusaha menyadarkan diri. Berdoa dalam hati. Teringat dukungan sanak saudara dan sahabat yang sangat mendukung saya untuk naik ke bus ini.
Tiba-tiba saja… hup! Tangan saya berhasil menangkap sebuah pegangan di pintu bus tersebut. Dapat! Dapat! 10 tahun doa dan usaha membuahkan hasil! Masih di pintu, saya lihat sekeliling. Dari berbagai pintu bus itu, masuk pula segelintir orang yang masih bertahan, yang masih ngotot untuk terus mengejar bus ini meski sesungguhnya fisik dan mentalnya sudah sangat lelah.
Saya memang belum berhasil masuk terlalu dalam ke dalam bus itu. Tapi mudah-mudahan tidak akan lama lagi bagi saya untuk bisa menyelusup ke dalam bus yang sudah penuh sesak ini. Mudah-mudahan tidak akan ada guncangan yang akan membuat saya terlempar keluar dari bus. Tak pelak ini memang akhir dari sebuah perjuangan. Tapi tantangan lain sudah menanti saya di dalam bus ini. Sementara ini nikmati dulu keberhasilan ini, lalu konsentrasi menghadapi satu per satu tantangan yang muncul di dalam bus ini.







Oh what a journey...i know how that feels..hohoho...well gw sekarang lagi ngejar bis juga nih...megang pintunya jg belom..wakakakka..
Semangat Ciedo! I wish you luck..:-) Jadi junior gua lagi lu.. :P
Wah mas, gue ketinggalan bus Budpar nih...Tungguin gue tahun depan yak!! hehehe
Nungguin lu masuk Deplu atau mau nyoba Budpar lagi?
Ya Budpar lah...lagian Deplu gak ada jurusan gue. Ato tahun depan mau buka buat antrop? hehehe. Kalo gak lewat Budpar, gue pasti bisa ke luar negeri pake cara gue sendiri. Doain ya...
Post a Comment
Create a Link
<< Home