Saturday, January 26, 2008
1k57: LSF. Perlukah?

Masyarakat Film Indonesia sedang mengajukan uji materiil Undang-Undang Perfilman No. 8 Tahun 1992 Tentang Perfilman kepada Mahkamah Konstitusi. Mereka ingin agar Lembaga Sensor Film (LSF) dibubarkan.

Salah satu alasan mereka adalah karena LSF tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. “Tadi ada saksi-saksi yang mengatakan kalau mereka ke bioskop masih lihat adegan ciuman. Anak-anak juga masih bisa nonton,” cetus Riri Riza setelah sebuah sidang di MK, “jadi, LSF tidak berfungsi dengan baik. Lebih baik dibubarkan saja.”

Nia Dinata menginginkan LSF diganti oleh sebuah lembaga klasifikasi film. Hal ini didukung oleh Dian Sastro, “Jadi, masyarakat bisa memilih film sesuai dengan rate yang dicantumkan.”

Menurut saya, Riri Riza adalah sutradara yang handal, tapi jelas ada kabel di otaknya yang perlu diperbaiki. Kalau sebuah badan tidak berfungsi dengan baik, ya diperbaiki, bukan lantas dibubarkan. Kalau semua yang tidak baik dibubarkan, negeri ini akan kosong dari badan-badan negara. Kenapa? Karena banyak badan-badan negara tidak berfungsi dengan semestinya. Polri dan Kejaksaan yang harusnya menegakkan hukum malah korupsi, hakim memutus perkara berdasarkan besaran rupiah yang disetor kepadanya oleh para pihak yang berselisih, dan lain sebagainya. Jadi, sekali lagi, perbaiki kinerja dan bukan bubarkan LSF.

Lagipula, kalau LSF mulai menggunting adegan-adegan ciuman di film-film Indonesia, bukankah mereka-mereka lagi yang pertama-tama akan protes? Saya sendiri sama sekali tidak keberatan jika film Indonesia bersih dari adegan ciuman. Bahkan menurut saya, adegan di film Indonesia lebih banyak hanya berupa tempelan. Biar gaya, keren, dan ngepop. Jika adegan ciuman tersebut dihilangkan, sebenarnya tidak akan mengganggu jalan cerita.

Tapi mereka? Pasti Riri Riza cs akan protes kalau adegan ciuman dipotong. Jadi mau yang mana, Ri? Dipotong atau enggak? Kalau LSF memotong adegan ciuman, akankah kalian memuji LSF karena berfungsi dengan baik? Soalnya kan kata Riri kalau adegan ciuman gak dipotong katanya LSF gak berfungsi.

Soal perlunya sebuah lembaga klasifikasi film, saya sependapat. Hanya saja, tidak sekarang, dan tidak menggantikan LSF. Kenapa? Karena konsumen film Indonesia belum siap untuk mematuhi sebuah aturan yang ditempel di poster film atau sampul DVD, dan penjual (termasuk bioskop) belum siap untuk menolak keuntungan materiil.

Sebagai ilustrasi, bayangkanlah sebuah film rilis dengan judul, “Aku Ingin Bercinta denganmu Sekali Saja”. Pada saat ini anggaplah LSF sudah mendiang dan oleh karenanya judul seperti itu tidak diperintahkan harus diganti. Oleh lembaga klasifikasi film, film ini digolongkan dalam film AO (Adult Only – Hanya Dewasa). Dan dewasa menurut kamus lembaga tersebut, misalnya, adalah 21 tahun ke atas. Apakah yang akan terjadi ketika film tersebut dilempar ke bioskop-bioskop?

Akan terjadi antrian panjang, bukan hanya mereka yang berusia 21 tahun ke atas, tapi juga anak-anak ABG bau kencur, serta remaja-remaja tanggung berumur 17,18,19 dan 20 tahun. Mungkin saja lebih muda. Ketika rilis di DVD pun, peminatnya pun tidak hanya konsumen yang sesuai dengan rate, tapi ya semua umur. Parahnya, pihak 21 (atau XXI), Blitz Megaplex, dan retailer film tidak mampu (baca: tidak mau) menyortir konsumen berdasarkan rate yang telah ditetapkan oleh lembaga klasifikasi film tadi. Dan pelanggaran ini pun, saya curiga, tidak akan membawa sanksi apapun baik bagi si penonton maupun yang mempertontonkan atau menjual.

Kenapa saya bisa berbicara seperti itu? Karena bangsa ini belum bisa mematuhi peraturan di atas kertas, di plang besi, ataupun di atas jalan. Lihat saja para pengemudi yang hanya patuh pada peraturan kalau ada polisi yang berjaga di dekar rambu. Itu kan bodoh. Maksud ada rambu di situ supaya polisi bisa berkonsentrasi pada bagian lain kota atau pada hal lain. Kalau udah ada rambu terus ada polisi juga, ya itu sih namanya pemborosan. Pantesan aja jumlah personil polisi kita kurang, karena setiap rambu dan perempatan mesti ada yang jaga.

Lihat juga kelakuan sebagian orang yang buang sampah sembarangan. Malah ada orang dengan mobil seharga miliaran rupiah bisa dengan enteng membuka kaca mobil dan membuang sampah di jalanan. Kekayaan tidak menjamin seseorang taat peraturan.

Pedagang kaki lima pun sama saja. Mengambil hak pejalan kaki seenaknya, menyampah, sampai mencuri listrik.

Itulah potret budaya masyarakat Indonesia. Mengharapkan mereka akan patuh pada stempel di poster dan sampul DVD? Mungkin kalian terlalu lama hidup di alam imajinasi, sehingga mengira budaya taat hukum sudah mengakar di Indonesia. Atau kalian menyarankan ada polisi di setiap teater dan menyortir penonton yang masuk?

Jadi, kalau menurut saya, LSF sebaiknya tetap dipertahankan keberadaannya dan diperbaiki kinerjanya (potong adegan ciuman di film Indonesia, misalnya). Lembaga klasifikasi film pun, kalaupun memang harus ada, tidak sampai menghapuskan keberadaan LSF.

Labels: ,

6 Comments:
At Sunday, January 27, 2008 7:23:00 AM
Blogger popsicle said...

udah pernah nonton adegan2 yg dipotong LSF belum? gwe pernah
memang lumayan parah, gak cuma film2 aja tapi di sinetron juga byk bgt adegan yg disensor

dan emang kebanyakan adegan yg disensor itu kesannya cuma tempelan. gwe nonton filmnya di bioskop, terus bbrp waktu lalu liat adegannya yg dipotong LSF, rasanya gak ngaruh juga adegan itu ada/ngga. persepsi gwe sama film & cerita itu tetep sama kok

di Indonesia ini kadang produser/sutradara nganggap bodoh penontonnya sehingga setiap adegan (pemerkosaan, misalnya) mesti digambarin secara detil. pdhl lewat simbol2 juga kita udah ngerti kok maksudnya

 
At Monday, January 28, 2008 5:10:00 PM
Blogger AryaNst said...

Itulah... Setuju Pops. Btw, mau donk liat potongan2 LSF, hehehe... buat koleksi di rumah :P

 
At Tuesday, January 29, 2008 10:48:00 AM
Blogger popsicle said...

gak punya copy-annya tuh. wkt itu diputer pas kuliah & sama dosennya gak boleh dicopy
anda tidak beruntung! hehehh...

 
At Thursday, January 31, 2008 11:03:00 AM
Blogger AryaNst said...

Oooh, kalo gitu free copy novel lu aja, oke? Mweheheheheh...!

 
At Thursday, February 07, 2008 6:09:00 PM
Anonymous indranila said...

menanggapi kasus ini, menurut saya, mereka hanya terburu-buru untuk menyatakan apa yang ada dalam benak mereka pribadi. saya prihatin jika usulan yang diajukan dian dkk dikabulkan. apakah benar bahwa sensor dalam salah satu adegan film dapat menghambat pemahaman penonton terhadap pesan yang ingin disampaikan? tentu saja sebaiknya 'pesan' ini benar-benar harus tersampaikan oleh 'orang yang tepat', bagaimana jika adegan ini ditayangkan dalam sebuah saluran televisi dimana anak-anak di bawah umur yang cenderung 'mengimitasi' apa yang mereka lihat, juga ikut mengonsumsi pula?! tentu dalam hal ini peran dari LSF menjadi penting. LSF telah dibentuk, namun penjualan film-film porno tetap menjamur dalam masyarakat, ini menjadi pertanyaan. mengapa? bukan permasalahan pembajakan film 'porno', namun lebih kepada moral bangsa kita yang benar-benar 'rendah'. darimana mereka dapat melakukan tindakan seperti itu? bagaimana jadinya jika tidak ada LSF? apa yang akan terjadi jika anak-anak di bawah umur ikut pula mengonsumsi adegan-adengan tersebut dalam layar kaca televisi yang secara umum sering menayangkan film 'dewasa' sebelum 'jam tidur anak'? apakah ini cara benar untuk 'membuka mata' bangsa kita?!

kunjungi blog pribadi saya di http://indranila.blogsome.com/

 
At Friday, February 08, 2008 7:59:00 AM
Blogger AryaNst said...

Terima kasih atas komentarnya Indranila :)

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Important Notice / Penting

First, this blog may contain unsuitable postings for people under 18 years (or under adult age according to your local law). If you're under age and encounter such postings, kindly leave immediately. Second, the entries here are my personal views and opinions and cannot in anyway be taken as the official views, opinions, or standings of the Department of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia or other parties unless specifically mentioned otherwise. / Pertama, blog ini mungkin memuat materi yang hanya cocok untuk usia 18 tahun ke atas (atau usia dewasa menurut hukum setempat). Jika kamu di bawah umur dan menemukan materi seperti itu, silahkan tinggalkan blog ini. Kedua, semua entri di sini adalah pandangan dan pendapat pribadi saya dan sama sekali tidak bisa dianggap sebagai pandangan, pendapat atau posisi resmi Departemen Luar Negeri Indonesia atau pihak-pihak lain kecuali disebutkan sebaliknya secara spesifik.

Not So Secret Facts

Image Hosted by ImageShack.us

Arya Nasoetion, Indonesian, Bogor-Jakarta-Bandung, 1979, Master of Science in European Studies, part-time detective, sometimes a writer, diplomat in the making, world (not American) football maniac, hate to read text books (but have to), crazy about Sherlock Holmes and Kudo Shinichi, admire Himura Kenshin, want to pilot Voltes V just like Gou Kenichi.

Published Works

Image Hosted by ImageShack.us

Published in December of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com


Image Hosted by ImageShack.us

Published in July of 2007 by GagasMedia. Buy it online at: Bukabuku.com, Inibuku.com or Cibuku.com

Contact Information

To contact me, please send your e-mail to arya.nasoetion@yahoo.com

Profiles

To see my Blogger profile, click here.

To view my Friendster profile, click here.

To view my Goodreads profile, click here

To view my Multiply site, click here

To check my profile at Wikikronologger, click here

Reserved Rights

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 License.

JANGAN ASAL COPY - PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Sideblog by Tumblr

Shouting Place


Free shoutbox @ ShoutMix

For your Information

Where is the name "Can You Keep a Secret?" taken from?

This Blog is named after Utada Hikaru's song, not after Sophie Kinsella's Chicklit.

Why is it called "Can You Keep a Secret?"?

Because you are expected to keep whatever you have read here a secret, especially if the entry is related to my personal experience.

I've seen several themes for this blog. For instance, the World Cup 2006 theme, the Ruthless Zionists theme, the Jack The Ripper theme, and the Sherlock Holmes: Hound of the Baskervilles theme. What is the theme now?

The current theme is still Sherlock Holmes. The picture used for the header is taken from "The Sign of Four" novel. The two persons are Sherlock Holmes and his trustee companion, Dr. Watson. The dog is Toby. "I would rather have Toby's help than that of the whole detective force of London," Holmes states in the novel. You can either read it online, download the story from project Gutenberg, or read the summary in wikipedia.

Who is Sherlock Holmes?

Where do you live all this time? A cave? He is a fictional detective created by Sir Arthur Conan Doyle. I can safely say that he is the most famous detective, fictional or not - alive or dead, in the world. For more details, you can visit Sherlockian.net.

Why do you use this theme for your blog?

Obviously, because I am a fan on Sherlock Holmes. Secondly, because this theme is designed especially for me by Nindya. Thanks a lot, :)

What is the best browser to view this blog?

I'm not sure. Please report bugs if you see them.

How about the screen resolution? What resolution do you recommend to view this blog with?

You would probably want to set your monitor at 1024 * 768 or higher resolution.

Are you are going to make daily entries?

Probably not. Please subscribe to my feed so you won't be missing any up-dates.

Are you going to moderate comments?

Although comments are generally welcomed, but I do reserve the rights to publish or not to publish and to delete a comment (including the ones on the shoutbox). And I don't have to explain my actions to you, thank you very much.

You give the choice to leave anonymous comments in the commenting system. Are you really allowing that? Or did you forget to turn that option off?

I would really appreciate it if you put your name on the comments you make. Having that said, I do recognize your rights to make anonymous comments or to put a fake name on your comments. So, if you feel like doing it, please do. However, I won't be as appreciative to it as I am to the comments made under a real name.

Secret Reading

Secret Pictures

Best Friends Since Forever

Aciedo's Wedding

First Appearance in KSB

From Mangiare to the Moustache Man

Gladi Resik Wisuda

Going Europe

Journal Launching + Contemporary Europe Seminar

Once Upon a Time in Bandung

Second Appearance in KSB + to the Fantasy World

Seminar on the EU, 2005

Wisuda

Please, Don't Keep These a Secret!

Boycott Israel

Palestine Blogs - The Gazette

Freedom of Speech on the Internet!

 

 

Others' Secrets

Visited Sites

Recent Posts

Archives

Affiliations

Powered by Blogger

BlogFam Community

rank blog indonesia

Powered by FeedBurner

Visitors

I feel obliged to tell you that your visit is being tracked. Meaning, I have data about your IP address, what system you are using, what city you are currently in, etc. Meaning, I'll know everything you are doing in here

Visible counter by:

Has been tracking since June 12, 2005

Invisible counter by:

 Subscribe Instead