|
Sunday, May 24, 2009
1176: An E-mail from My Dad
A few days ago I received the strangest e-mail. It was from my father. The subject was "I need your help". Hmmm... Odd... It was written in English. And even weirder, why didn't he call instead? I smell something fishy about the e-mail. And the odour got even more foul when I read the e-mail. It said that he was (my father) in London! I became clear all of the sudden, that the e-mail was a fraud. Somebody hacked into my father's account somehow, and sending e-mails, probably to all of his contacts, and... get this, asking for money! The e-mail said that he lost his luggage along all of his documents and money. So, you can figure, the sender of the e-mail was asking for some money. Below is a copy of it:
Hi, How are you doing today? I am sorry i didn't inform you about my traveling to UK, but It has been a very sad and bad moment for me over here and the present condition that i found myself is very hard for me to explain, am really stranded in UK because i forgot my little bag in the Taxi where my money, documents and other valuable things were kept on my way to the Hotel am staying, I am facing a hard time here because i have no money on me to clear my Hotel bill, you are the only person i could reach at this point, i already spoke to the embassy here but they are not responding to the matter effectively.
I have limited access to emails for now because i dont have money to go online here, i need you to help me out with a sum of $1,500 or any amount you can afford for now so i can pay the hotel bills, I need this help so much and on time because i am in a terrible and tight situation here, I don't even have money to feed myself for a day which means i had been starving so please understand how terrible it is. Use the information below to send the funds Name: *my father's name* ADDRESS:16 Leinster Square, CITY:Bayswater, London COUNTRY:UK ZIPCODE:W2 4PR
Please kindly help me send the money today, immediately you have the money sent to me, kindly help me scan a copy of the receipt paper given to you at the bank or western union outlet, or you help me write out the necessary details on the receipt paper out for me. Sender full name and address: 10 Digits Money transfer control number: Total amount sent:
Send this so i can get the money and receive it and promise to pay back your money as soon as i return home Please i will be waiting to hear from you soon... Sincerely,
I intended to tell my father about this when I went home in the weekend. But due to tight schedule, I have to leave Bogor in Sunday morning, and didn't have a lot of time to chat with him. So, it slipped my mind. The case instantly brought back to my attention when just now I received an e-mail from his friend in Japan. He asked how my dad was doing, and asked for a contact number to call my dad in London. Evidently, the hacker sent e-mails to all of my dad's contacts and asked for money. After I replied my dad's friend's e-mail, I immediately sent a text message to my dad telling him about this. So now he is aware of this matter. It turns out that he can't logged into his account since two or three days ago. I'm not sure if he can regain his e-mail address. Anyway, the moral of the story is, don't instantly believe that your dad is in London, especially when you just met him a few days ago at home. Oh, and pick somebody who doesn't have a son working for the Department of Foreign Affairs. It just doesn't make sense that the embassy would ignore father of a diplomat :D. Labels: case, general
Monday, April 27, 2009
1175: Pelajaran dari Seorang Duta Besar
Di dalam kelas Sekolah Dinas Luar Negeri kami, para calon diplomat Indonesia, mendapatkan pengajaran baik tentang hal-hal akademis maupun tentang teknis. Misalnya, kami mendapatkan pelajaran tentang Teori HI, Hukum, Resolusi Konflik, Konvensi Wina, bahasa Inggris dan asing lain (saya Korea), dsb. Sedangkan pengetahuan teknis yang diberikan biasanya menyangkut bidang kekonsuleran dan protokoler, meskipun juga ada hal-hal lainnya. Tapi selain itu, kami juga bisa mendapatkan banyak pelajaran dari cerita-cerita dan pengalaman-pengalaman diplomat-diplomat senior yang mengajar kami, juga sifat dari para duta besar yang bertugas menjadi pembina kami. Mungkin perlu diketahui sebelumnya bahwa kami dibagi menjadi tiga kelas, dan masing-masing kelas mendapatkan tiga sampai empat duta besar untuk menjadi pembina. Kelas saya sendiri mendapatkan empat duta besar. Para duta besar tersebut kemudian bertugas untuk mengawasi kami di kelas secara bergantian. Maksudnya, setiap hari akan ada seorang yang mendampingi kami di kelas. Beliau akan bertugas sebagai moderator kuliah, juga mengawasi dan mencatat kami. Misalnya, kalau kami sampai tertidur di dalam kelas, atau mengobrol, atau tidak memperhatikan isi ceramah, maka nama kami akan masuk dalam buku catatannya. Makin banyak catatan negatif tentang kami, siap-siap saja untuk magang ke Vanuatu, Solomon Islands, Port Moresby, atau bahkan ke Zimbabwe atau hardship post lainnya. Selain itu, tugas mereka adalah menjadi semacam pembina untuk kelompok bedah buku kami. Di Sekdilu, kami dibagi menjadi beberapa kelompok (kelas saya dibagi menjadi empat) yang kemudian masing-masing kelompok diberi sebuah buku untuk dibedah. Artinya dibedah, buku itu harus kami acak-acak, uyet-uyet, analisa dari segala sisi, dan kemudian kami harus menentukan posisi kelompok kami terhadap buku itu dan pada akhirnya menghubungkannya dengan politik luar negeri Indonesia. Cerita tentang pembina saya inilah yang ingin saya bagi di sini, sebagai sesuatu yang bisa saya ambil sebagai suatu pelajaran berharga. Kelompok saya mendapatkan buku tentang Cina. Judulnya China Inc., boleh cari di internet kalau ingin tahu isi singkatnya. Kelompok kami sudah memberikan sebuah draft untuk bab I tugas kami, yang menceritakan isi buku tersebut secara singkat. Suatu ketika, pembina kami meminta bertemu dengan kelompok setelah kelas usai. Ternyata beliau ingin membahas tentang draft bab I tugas kami tersebut. Ada beberapa masukan yang beliau berikan. Di suatu poin dari pembahasan draft tersebut, beliau memberikan masukan. Intinya, karena ini adalah bab yang menceritakan tentang isi buku, jangan memasukkan hal-hal yang tidak ditulis dalam buku. Beliau dengan spesifik menunjuk satu bagian dari tugas kami yang menurutnya tidak terdapat dalam buku. Pas banget itu adalah bagian yang saya kerjakan. Jadi saya katakana bahwa bagian itu ada di dalam buku. Beliau tetap insist bahwa bagian itu tidak ada, karena dia sudah membaca seluruh buku itu sampai habis. Saya sebutkan nama bab tempat hal itu tercantum, tapi beliau tetap pada pendiriannya. Sayangnya, karena itu pertemuan mendadak, tidak ada di antara kami yang membawa bukunya. Bingung bagaimana cara meyakinkan beliau, saya memutuskan untuk mengalah. Duta besar cuuuy, kalau saya mendebat tapi tidak bisa menunjukkan bukti, bisa-bisa saya magang di Vanimo. Setelah pertemuan itu, di asrama, saya mencoba melihat bab yang menjadi tanggung jawab saya. Mungkin saja saya memang salah ingat. Ternyata tidak, saya benar. Hal yang kami perdebatkan benar-benar tertulis di sana. Saya berniat untuk membawa buku itu dan menunjukkan pada beliau pada saat beliau dijadwalkan untuk mengawasi kelas kami, meskipun masih belum begitu yakin bagaimana cara menunjukkan halaman itu tanpa terlihat menjadi smart-ass. Beberapa hari kemudian beliau kembali masuk sebagai pembina kelas. Saya sudah tidak begitu berniat untuk menunjukkan bukti tersebut, biarlah nanti terbukti dengan sendirinya, begitu pikir saya. Ternyata, setelah pelajaran terakhir selesai, beliau memanggil saya. "Man," seru beliau memanggil saya agar mendekat kepadanya. Saya waktu itu sedang sibuk entah berbenah atau membahas sesuatu dengan teman, kaget dan langsung 'meloncat' ke arahnya yang sedang bersiap ke luar ruangan. "Eh, iya Pak?" "Saya sudah baca lagi bab kamu. Ternyata benar, ada tentang pre-emptive strike dan containment," katanya sambil tersenyum. "Eh? Oh iya, Pak. Terima kasih, Pak" saya mengangguk. Beliau berlalu. Teman-teman saya, terutama yang sekelompok, mendekat dan bertanya ada apa. Saya menjelaskan sebentar, lalu terpikir sesuatu. Bahwa apa yang dilakukan beliau itu sungguh hebat. Mengakui kesalahan. Kepada anak buah pula. Bayangkan. Beliau adalah duta besar. Posisinya nun jauh di atas sana. Saya adalah calon diplomat. Posisinya nun jauh di bawah sini. Saya atase pun belum. Pengalaman beliau segudang. Pengalaman saya bahkan sekotak pun belum ada. Tapi beliau tidak sungkan secara langsung bahwa saya memiliki dasar yang kuat dalam debat kami sebelumnya. Pelajaran seperti itu yang membuat Sekdilu bahkan lebih berharga untuk kami. Ilmu dari dalam kelas dan ceramah pasti akan berguna kelak, tapi teladan dari para diplomat senior termasuk para duta besar jauh lebih masuk dalam hati dan ingatan kami para junior ini. Labels: work
Friday, April 10, 2009
1174: Voted?
 I Voted for a Better Indonesia Did you?
Labels: Nasional, politik
Thursday, April 02, 2009
1173: Antara Distrik dan Proporsional
Kurang dari sebulan lagi kita semua pemilih yang terdaftar akan melakukan pencontrengan umum demi memilih wakil-wakil kita yang akan duduk di DPR dan DPRD juga DPD. Itu kalau kita memutuskan untuk mencontreng, hehehe... Well, tapi intinya ya itu, tanggal 9 April (iya kan?) kita akan menganter caleg-caleg itu menjadi legislator beneran.
Sudah tahu mau nyontreng siapa? :P Saya sih terus terang masih blank, bingung, gamang, dalam menentukan pilihan. Entah kenapa, model kampanye yang dilakukan di Indonesia kurang mengena dan kurang memberikan informasi tentang partai dan caleg peserta pemilu. Kalaupun mau memilih seorang caleg karena rekam jejak politiknya yang terlihat memihak rakyat, dia tidak masuk dapil kita. Kalau mau memilih berdasarkan partai, calegnya enggak ada yang kenal. Semua caleg kampanye, bersaing, dan saling sikut, padahal dari partai yang sama. Jadi itu sebenarnya masalah dilakukannya sistem proporsional untuk memilih calon legislatif. Sistem ini adalah jawaban dari sistem distrik yang, menurut pendukung sistem proporsional, tidak adil. Apa sih bedanya? Secara singkat, dalam sistem distrik, sebuah daerah pemilihan hanya bisa memiliki seorang wakil terpilih, sementara dalam sistem proporsional, akan ada beberapa wakil. Artinya, dalam sistem distrik, akan terjadi situasi di mana calon yang mendapatkan suara terbanyak akan mewakili daerah pemilihan tersebut, dan hanya dia yang mewakili daerah pemilihan tersebut, meskipun selisih suara dengan peringkat dua hanya satu suara. Sementara sistem proporsional situasinya agak rumit. Biasanya dengan metode tertentu akan dihitung terlebih dahulu berapa kursi yang diperebutkan untuk daerah pemilihan tersebut, lalu akan ditentukan juga berapa jumlah suara yang diperlukan untuk merebut sebuah kursi di daerah pemilihan tersebut. Dengan demikian, dalam sistem distrik akan ada banyak suara yang hilang. Misalnya, dalam sebuah distrik dengan jumlah total pemilih 10.000, seorang caleg mendapatkan suara 5.100 dan caleg lainnya mendapatkan 4.900 suara, maka yang maju mewakili distrik itu di parlemen hanyalah caleg yang menang. Artinya, ada 4.900 pemilih yang tidak memiliki wakil di parlemen. Sebaliknya, jika dalam sistem proporsional ada sebuah wilayah yang memiliki 100.000 pemilih, dan suara terbagi menjadi 60.000 untuk partai A, 30.000 untuk partai B, dan 10.000 untuk partai C, maka semua suara bisa terwakili di parlemen. Misalnya (ini tergantung bilangan pembagi pemilih), partai A mendapatkan 6 wakil, partai B mendapatkan 3 wakil dan partai C mendapatkan 1 wakil. Dengan demikian, dalam sistem proporsional tidak ada atau sedikit suara yang terbuang. Masalahnya, ini menurut saya pribadi dan tidak tertera di dalam buku politik yang pernah saya baca dan oleh karena itu sangat terbuka untuk diperdebatkan, kalau memang mau menerapkan sistem proporsional, kita seharusnya tetap mencontreng partai dan bukan orang. Kalau mau mencontreng orang, kita sebaiknya pindahan ke sistem distrik. Kenapa? Karena ketika kita menjalankan sistem proporsional tapi memilih orang, maka tiap caleg akan berkampanye dan bersaing, bahkan dengan rekannya dari partai yang sama! Padahal, seperti yang sudah sering saya ungkapkan, setiap partai seharusnya memiliki ideologi, dan ideologi itulah yang menentukan nilai-nilai yang akan diperjuangkan caleg. Jadi, semestinya, caleg-caleg dari partai A akan punya program yang kurang lebih sama, sehingga tidak terlalu ngaruh siapa yang menang. Biarin aja deh partai yang menentukan orang-orangnya yang masuk parlemen. Artinya, nama para calegnya memang dipajang ketika pemilu, dengan sistem nomor urut seperti yang terjadi sebelum ini. Tapi kalau kita memang mau memilih orang, ya mestinya kita bedol desa ke sistem sebelah, distrik. Soalnya, dengan hanya mendapatkan satu kursi per dapil, maka yang terjadi adalah persaingan antarcaleg dari partai yang berbeda. Caleg dari partai A akan membawa nilai-nilai partainya, dan begitu juga dengan caleg dari partai B. Meski demikian, saya juga mengerti kesulitannya mengadakan sistem distrik dengan jumlah peserta pemilu yang mencapai 34 (iya kan?) partai. Akan ada banyak sekali suara yang terbuang. Tapi inilah sekaligus keuntungan sistem distrik, karena akan mendorong partai-partai yang perbedaannya hanya ideologinya tidak kentara untuk bergabung. Lagipula, dengan cara ini kampanye sebuah partai akan lebih terintegrasi bukannya sporadis seperti yang terlihat selama ini. Maksudnya ya itu, tiap caleg bikin spanduk dan stiker adalah juga buah dari sistem proporsional yang mencontreng calonnya, bukan partainya. Inti dari tulisan ini adalah, sistem pemilihan umum di Indonesia masih jauh dari sempurna. Sebagai negara yang baru 11 tahun mengecap demokrasi, saya rasa wajarlah kalau kita semua masih meraba-raba sistem yang bagaimana yang cucok dengan kita. Akan ada perbaikan-perbaikan di masa mendatang, saya yakin. Sementara itu, biarpun dengan sistem yang belum sempurna, nyok sukseskan pemilu 2009! Labels: Nasional, politik
Saturday, March 14, 2009
1172: Dan Resmilah Sudah...
Tanggal 11 Maret kemarin akhirnya Sekdilu 34 resmi dibuka oleh Bapak Menteri Luar Negeri RI N. Hassan Wirajuda. Kami, siswa Sekdilu 34, selain menjadi peserta yang dilantik juga berperan sebagai paduan suara. Tapi cuma dua lagu aja sih, Indonesia Raya sama Bagimu Negeri. Setelah acara pokok (sambutan Menlu, penyematan tanda peserta secara simbolis, dll), kami berfoto dengan Menlu dan pejabat lainnya, dibagi per kelas. Di bawah adalah foto kami dari kelas B, dan beberapa foto lainnya untuk ngabibita biar yang mau masuk Deplu makin termotivasi.
Setelah acara pokok, ada acara ramah tamah, semacam coffee break gitu, di depan Ruang Nusantara. Nah, sebelum acara pembukaan dimulai juga sudah acara makan siang di tempat yang sama, Gala Lunch kalau kata saya sih, hehehehe...
Yah sudahlah, ini sebagian foto-fotonya. Bagi yang punya Facebook, bisa lihat foto-foto lebih banyak lagi di album foto saya di sana, judul albumnya "Nyanyi-nyanyi di Depan Menteri" bagian 1 dan 2.
 Kelas B berfoto dengan Menteri Luar Negeri dan pejabat Deplu lainnya.
 Dikelilingi gadis-gadis Sekdilu 34... Eh, ada juga yang namanya beneran Gadis denk.
 Lagi acara ramah tamah ada fans minta foto bareng, hahaha...  Ini besoknya. Habis pengangkatan resmi sebagai siswa Sekdilu 34, kami langsung dapat SK CPNS, hahahaha...
Semoga bisa membuat kamu-kamu yang mau masuk Deplu jadi termotivasi ya (kata lainnya, semoga bisa bikin iri, hehehehe...) Labels: work
|
|
Important Notice / Penting


|