1191: Terakhir dari Manila
Ini mungkin adalah entry terakhir yang saya kerjakan dari meja kerja saya di KBRI Manila, dalam status peserta magang. Hari Sabtu, saya sudah akan kembali ke Indonesia, sementara besok sendiri adalah hari packing dan juga hari menyerahkan Laporan Kegiatan Magang dan Makalah Magang kepada KUAI(Kuasa Usaha Ad-Interim). Laporan Kegiatan Magang adalah rincian kegiatan yang saya kerjakan selama magang di Fungsi-fungsi di KBRI Manila, sementara Makalah Magang adalah makalah singkat yang mengambil tema tentang negara tempat para peserta magang dimagangkan. Dalam kasus saya, Filipina. Judul makalah saya sendiri adalah: "Tantangan Pembentukan Identitas ASEAN: Kebebasan Bergerak Manusia Republik Indonesia-Republik Filipina".
Seharusnya, kedua tulisan tersebut saya serahkan hari ini pada pukul 16.30. Tapi terjadi perubahan rencana mendadak, yaitu pada pukul 16.00 tiba-tiba diumumkan bahwa saya harus mengikuti pertemuan dengan Dewi Fortuna Anwar di Ruang Rapat KBRI. Akibatnya, akhirnya diputuskan keduanya akan saya serahkan besok pukul 10.00, sekaligus dibahas oleh KUAI. Ngeriii...
Tapi ya sudahlah, enggak usah saya membahas isi makalah itu di sini. Malu-maluin, bahkan untuk standar saya. Pengen sih membuat sebuah entry yang gimanaaa gitu, tapi entry ini juga saya buat hanya karena besok tidak akan sempat lagi membuat sebuah entry. Makanya saya bela-belain ngeblog meskipun sedang tidak ada ide juga.
Malam ini mau ngajak staf-staf yang selama ini dekat dengan kami (saya dan Roy, teman magang saya) makan-makan perpisahan. Sekalian mau makan-makan dengan memakai kartu bebas pajaknya salah seorang staf teknis sini, hehehe... Jadi diplomat itu kan kebal pajak sebenarnya. Kalau kita belanja kan suka ada Pajak Pertambahan Nilai tuh? Nah, diplomat sebenarnya kebal dari membayar itu. Begitu juga pajak-pajak lain, seperti pajak hiburan, pajak restoran, pajak pendapatan (iyalah kalau ini), dsb.
Nah, karena saya magang, saya tidak mendapatkan kekebalan seperti itu, karena itu harus mendapatkan persetujuan Kementerian Luar Negeri sini. Jadi, kalau mau bebas pajak, ya harus pinjam punya diplomat yang memang pos-nya di sini. Lumayan loh sebenernya kebal pajak gitu. Cuma, menurut cerita, ada beberapa tempat yang memang susah prosedurnya, tapi juga ada yang gampang.
Apalagi lagi ya.. hari ini mulai packing sih malem-malem, sehabis makan malem nanti. Besok juga dilanjut, ke kantor bentar buat menyeragkan tulisan-tulisan dan pembahasannya, shalat Jum'at, terus pulang lagi deh nerusin packing. Sabtunya pulang deh ke Indonesia.
Can't hardly wait to go back!
PS:
Ada anak Sekdilu 35 yang baca ini? Tanggal 1 Februari saya mau lapor datang ke Pusdiklat. Kesempatan kalau mau ketemu saya, hehehehehe...
Seharusnya, kedua tulisan tersebut saya serahkan hari ini pada pukul 16.30. Tapi terjadi perubahan rencana mendadak, yaitu pada pukul 16.00 tiba-tiba diumumkan bahwa saya harus mengikuti pertemuan dengan Dewi Fortuna Anwar di Ruang Rapat KBRI. Akibatnya, akhirnya diputuskan keduanya akan saya serahkan besok pukul 10.00, sekaligus dibahas oleh KUAI. Ngeriii...
Tapi ya sudahlah, enggak usah saya membahas isi makalah itu di sini. Malu-maluin, bahkan untuk standar saya. Pengen sih membuat sebuah entry yang gimanaaa gitu, tapi entry ini juga saya buat hanya karena besok tidak akan sempat lagi membuat sebuah entry. Makanya saya bela-belain ngeblog meskipun sedang tidak ada ide juga.
Malam ini mau ngajak staf-staf yang selama ini dekat dengan kami (saya dan Roy, teman magang saya) makan-makan perpisahan. Sekalian mau makan-makan dengan memakai kartu bebas pajaknya salah seorang staf teknis sini, hehehe... Jadi diplomat itu kan kebal pajak sebenarnya. Kalau kita belanja kan suka ada Pajak Pertambahan Nilai tuh? Nah, diplomat sebenarnya kebal dari membayar itu. Begitu juga pajak-pajak lain, seperti pajak hiburan, pajak restoran, pajak pendapatan (iyalah kalau ini), dsb.
Nah, karena saya magang, saya tidak mendapatkan kekebalan seperti itu, karena itu harus mendapatkan persetujuan Kementerian Luar Negeri sini. Jadi, kalau mau bebas pajak, ya harus pinjam punya diplomat yang memang pos-nya di sini. Lumayan loh sebenernya kebal pajak gitu. Cuma, menurut cerita, ada beberapa tempat yang memang susah prosedurnya, tapi juga ada yang gampang.
Apalagi lagi ya.. hari ini mulai packing sih malem-malem, sehabis makan malem nanti. Besok juga dilanjut, ke kantor bentar buat menyeragkan tulisan-tulisan dan pembahasannya, shalat Jum'at, terus pulang lagi deh nerusin packing. Sabtunya pulang deh ke Indonesia.
Can't hardly wait to go back!
PS:
Ada anak Sekdilu 35 yang baca ini? Tanggal 1 Februari saya mau lapor datang ke Pusdiklat. Kesempatan kalau mau ketemu saya, hehehehehe...
1190: Review: Sherlock Holmes Movie
So I have just watched Sherlock Holmes, the one starred by Robert Downey, Jr., as Sherlock Holmes and Jude Law as Dr. Watson. Premiere here in the Philippines on January 8, 2010.Mixed feelings and emotions, but I can safely say that I am relieved. The two Holmes movies I have watched previously (The Case of Silk Stocking and The Hound of the Baskervilles) were disappointing for a very simple reason. I have mentioned this over and over again, it was because in the two movies, Holmes injected himself with cocaine in a middle of an ongoing case!
That cannot be reasoned, because he only does cocaine when his mind are in stagnation. That only happens when he has no case to think about. Thus, he only injects cocaine when he is idle, never while he has cases to solve. If he is one a case, he will never give up such valuable time to inject himself. He would rather smoke his pipe and sit there while thinking of the case on his comfy chair in the 221b Baker Street.
Luckily, in the new movie, he is not injecting cocaine while on a case. Not even injecting at all, even when the movie tells us that he has been idle for three months after his last case, Lord Blackwood.
I’m not sure if Holmes ever had such a long period without having a case to handle. But in the times like these, he would usually use cocaine, so it would be in line with the canon (original stories by Doyle) if there was a scene showing him injecting himself. But I guess Guy Ritchie thinks differently, and decides that Holmes has to be a boxer/fighter in his spare time. Even though I find that hard to digest, but it is better than to see Holmes injects himself while on a case. I am trying to say that, I can manage the idea of Holmes fighting to fight boredom better than the idea of he uses cocaine while on a case, especially because Holmes being a boxer was mentioned in the canons.
That is the first part. Now on to the second. I can actually portray Dr. Watson in Jude Law’s performance. But I fail to do the same with Downey’s acts, he is simply not Sherlock Holmes. His physical appearance just doesn’t represent Holmes’. And to make it worse, the movie portrays Holmes as dirty as a homeless, while actually he is a British Gentleman, except when he is on undercover. And also, Holmes in the movie is too much of an action man to me. Sure, the canons tell us that he knows how to box and Baritsu. Sure, I’ve had hope that there would be a Holmes movie that actually portrays him as a man of action as well as a deep thinker. But the action side of Downey’s Holmes is just too much. Ritchie overdoes Holmes’ ability in action.
A little further in the movie, I have this crazy feeling, that Mark Strong (plays Lord Blackwood) is more suitable to play Holmes, if one judges from his face only, especially his nose. I don’t know why, but I have the feeling that Holmes’ nose looks similar to his. There is actually a description of what Holmes looks like in one of the canon, but I can’t be sure if the description fits Strong. Again, that is just my feeling.
Third, I think Holmes is a bit careless in the movie. The most obvious is when he takes for granted the bottle of wine Irine Adler gives him. That is just not the Holmes I imagine. In my imagination, he will somehow see that Irine has tampered the bottle, and therefore he will not drink the wine, at least, until Irine also drinks it.
Fourth, his relation with Dr. Watson, even so it is amusing to see them like that, is not something that I’ve imagined from reading the canons. There are some similarities with the original stories, but cannot help this feeling that that is not how their relation really is in the canons.
Fifth, the reasoning is okay. Most of them are in line with mine, which suggested that this movie lacks in mystery. However, regarding the hanging of Lord Blackwood in the early part of the movie, I find it hard to believe that he can be pronounced dead by Dr. Watson. It is not because his pulse, the movie explains how Blackwood makes his pulse seems to be gone. The trick is mentioned in the canon in another case, if I’m not mistaken, so it is no mystery to me.
Not also the way he is hanged. Even though a bit farfetched, but I can live with the trick.
It is the state of his neck that gets to me. According to my knowledge, if a convict was to be sentenced by hang to the death, s/he would die of a broken neck, not from suffocation. At least that is what I’ve read somewhere. I imagine, if somebody was suddenly to be dropped from a high place like you did to Lord Blackwood, and the rope around his neck prevents him from falling further, the rope would pull his neck but the body still went down for several moment until it cannot go any further. Hence, some joints in the neck would be broken and that caused death, not strangulation from the rope.
If that is the case, then Dr. Watson, being such an excellent Doctor as Holmes confesses in The Adventure of A Dying Detective, will no doubt check Blackwood’s neck before anything else. But the movie is missing that scene.
Speaking of Dr. Watson, in the canon his fianceĆ©, Mary Morstan, is a client of Holmes before finally going out with Dr. Watson. In the movie, she never even met Holmes. And there is also Irine Adler, the only woman that ever defeated Holmes (read A Scandal in Bohemia). Many Sherlockians speculate that Holmes actually has feelings with the Lady. This is the view that Ritchie takes, apparently. However, in this movie, Adler sadly becomes a criminal, a deceiver, whom takes advantage of her beauty to seduce man (including Godfrey Norton, which in the canon she loves so much) and then gets benefits from her relationship. I don’t think that is consistent with the canon.
Another minute issue, Inspector Lestrade is not harsh enough towards Holmes. In the canon, the inspector frequently would have disagreement with Holmes on various aspects of crimes, even though at the end he is always proved to be wrong. But luckily, the movie shows he helps Holmes. That is good, because I do not think that he hates Holmes that much to actually capture him.
Another good things of the movie, it quotes the canon several of time. “My mind rebels at stagnation. Give me problems, give me work”, “Data! Data! I can’t make bricks without clays”, “I was looking for it, ” (when in astonishment Watson asks him how could he see a transparent cord in the crime scene) are several of the quotes from the canon which appear in the movie.
Dr. Watson also being described as a competent partner. This is so true. In the canon, Holmes really relies on his partner. People tend to see Watson as an incompetent fool whose function is just to write Holmes cases, while in fact he is much more than that. He is a very capable partner and he is not stupid. He is a Doctor, mind you, an ex military as well. Maybe he has physical weaknesses (he was shot by a Jezail bullet. Many Sherlockians claim he was shot in two places; shoulder and leg), but that does not make him a weakling like so many people think of him. Although, I am not quite sure if he could really punch Holmes like in the movie, and I think there should be more of scenes where Watson was astonished by Holmes’ deduction.
And a possibility of a sequel with Prof. Moriarty in it is just too cool to expect, even though it will most likely spawn a lot of critics from Sherlockians, should the movie failed to fulfil our expectations of an appearance of such a highlighted character.
The verdict?
The movie is not bad. There are still a lot of things from the canon that I wish I see and there are certainly a lot of things that I wish I didn’t see in the movie. I second Rod Mollise's suggestion to all Sherlockians to watch the movie. That said, the movie would be more enjoyable if it doesn’t bear the name of Sherlock Holmes.
1189: Berprotokol dan Konsuler
Mulai tanggal 16 Desember sampai tanggal 31 Desember nanti saya dimagangkan di Fungsi Protokol dan Konsuler (Protkons) KBRI Manila. Mungkin tidak banyak juga yang mengerti kerja Fungsi ini. Kalau Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya mungkin masih bisa mengerti kira-kira apa saja kerjaannya. Tapi Protkons? Mendengarnya saja mungkin jarang-jarang, karena bukan kata yang akan kamu gunakan dalam percakapan sehari-hari.
Contohnya? Ya banyaklah, tapi yang paling nyata mungkin pengaturan tempat duduk pada saat makan malam, konferensi dan acara resmi lainnya. Contoh lain adalah bahasa dalam nota diplomatik. Ada pakemnya yang memang harus ditaati. Termasuk dalam tugas Fungsi ini adalah antar-jemput tamu KBRI atau delegasi yang berkunjung.
Wikipedia mengartikan Protokol sebagai berikut:
A protocol is a rule which guides how an activity should be performed, especially in the field of diplomacy. (wikipedia)
Contohnya? Ya banyaklah, tapi yang paling nyata mungkin pengaturan tempat duduk pada saat makan malam, konferensi dan acara resmi lainnya. Contoh lain adalah bahasa dalam nota diplomatik. Ada pakemnya yang memang harus ditaati. Termasuk dalam tugas Fungsi ini adalah antar-jemput tamu KBRI atau delegasi yang berkunjung.
Kalau Konsuler, tugasnya menyangkut pelayanan terhadap warga negara lah. Misalnya, perpanjangan paspor, mengurus aplikasi visa bagi WNA yang ingin berkunjung ke Indonesia, sampai ke masalah perlindungan seperti menengok WNI yang ditahan dan dipenjara, memastikan seorang WNI memiliki pengacara ketika menjalani persidangan, sampai melakukan identifikasi jenazah WNI di kamar mayat.
Dari semua Fungsi tempat saya pernah magang, tugas-tugas kekonsuleran ini yang menjadikan magang di Protkons menjadi menarik dan berbeda. Tugas di Fungsi Politik, Ekonomi atau Sosial Budaya acaranya tidak jauh dari mengikuti sidang dan konferensi, makan malam diplomatik (formal atau nonformal), atau pagelaran seni, dan lain-lain. Tapi magang di Protkons, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke penjara-penjara tempat WNI kita dipenjara, masuk ke tahanan polisi bertemu dengan tersangka pelaku kejahatan, dan tentu saja kan berkunjung itu bukan berarti hanya datang dan diam. Tentu saja selama kunjungan itu kita akan melakukan percakapan dengan mereka. Ini juga menarik.
Berada di tempat-tempat seperti itu kan sebuah perubahan suasana dari ruang konferensi yang ber-AC, di mana semua pesertanya tampil necis dengan jas atau setelan resmi. Ruang di mana kita berbincang dengan para WNI tentu jauh berbeda dengan tempat-tempat di mana para diplomat biasa ngobrol ketika break makan siang konferensi atau pertemuan makan malam.
Sekali lagi, ini menunjukkan ruang lingkup diplomat yang amat luas. Dari ruang rapat bergengsi sampai kamar sel tahanan. Tidak bisa pula seorang diplomat hanya mau bergaul dengan kelas atas yang terpelajar dan bergengsi, karena dia harus juga berbicara dari hati ke hati dengan golongan masyarakat yang sering dipandang sebelah mata, misalnya Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT), Anak Buah Kapal (ABK), bahkan sampai pemerkosa, pembunuh, teroris, pengedar narkoba, dll. Apapun kasusnya, kalau dia WNI, adalah tugas perwakilan untuk memastikan dia mendapatkan fair trial dan perlakuan yang baik dari aparat.
Saya memang mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman dari kegiatan magang ini. Dan bisa saya katakan, magang di Protkons adalah pengalaman paling menarik selama magang saya ini.
1188: Amplop di Bandara
Manila kedatangan kunjungan dari rombongan sebuah instansi/lembaga/organisasi yang mungkin tidak saya sebutkan jenis, bentuk dan sifatnya. Yang jelas, rombongan ini berasal dari Indonesia. Kalau tidak, tidak mungkin KBRI akan meminta saya mengakomodir permintaan rombongan tersebut selama sehari mereka ada di Manila.
Permintaan mereka sih standar saja, jemputan waktu mereka datang di bandara, booking hotel untuk menginap mereka dan jemputan waktu mereka akan ke bandara. Sebenarnya untuk yang terakhir mereka ternyata sudah berniat untuk menyewa sebuah bus kecil, tapi karena KBRI memang telah menjadwalkan akan mengantar mereka ke bandara dengan mobil kedutaan dan didampingin staf dari Protokol dan Konsuler, maka mereka membatalkan niat tersebut dan tentu saja menyambut gembira niat baik KBRI dalam memudahkan perjalanan mereka.
Anyway, kembali ke cerita utama, pada hari kedatangan, saya pun menjemput mereka dengan seorang local staff Protkons ke bandara. Kami datang rada telat, karena ketika kami sampai mereka baru saja keluar dari pintu kedatangan. Biasanya, tamu akan dijemput di dalam terminal, karena para staf protkons memiliki ID Card khusus yang membuat mereka diperbolehkan masuk sampai daerah yang tidak boleh dimasuki tanpa ID tersebut.
Biasanya, staf Protkons akan membantu mengurus pengambilan bagasi, bahkan sampai mengurus imigrasi kalau tamunya datang dari luar Filipina. Seperti waktu saya tiba di Manila, staf protkons yang menjemput di dalam terminal langsung meminta paspor saya dan dia yang mengurus semuanya. Di imigrasi pun kami lancar, selain karena memang pemegang paspor diplomatik diberikan jalur khusus (pemegang paspor biasa mengantri di counter imigrasi).
Nah, kembali ke cerita, kami waktu itu terlambat, jadi mereka sudah keluar dari gerbang kedatangan. Untung saja saya melihat seragam mereka. Kemungkinan besar yang memakai seragam seperti itu ya rombongan Indonesia, jadi saya hampiri dan tegur salah seorang memakai Bahasa Indonesia. Ternyata benar itu adalah mereka.
Berikutnya semua koper masuk mobil dan kami pun berangkat ke hotel. Di hotel, saya dan local staff itu tetap di sana sampai memastikan bahwa semua akan kebagian kamar. Ada lima kamar yang belum dapat ditempati karena pemakainya belum check-out, jadi untuk sementara ada yang menampung teman-temannya di kamarnya. Tapi pada umumnya semua sudah bisa dipastikan tidak akan terlantar. Setelah memberikan kartu nama saya pada koordinator lapangannya, saya dan local staff itu pun kembali ke KBRI. Hari itu berakhirlah cerita saya dengan rombongan tersebut.
Besoknya, jam 05.30 sore saya menjemput ke hotel dengan local staff Protkons yang berbeda. Setelah memastikan semua barang terangkut, kami berangkat menuju bandara. Di sana saya dan local staff itu membantu mereka check-in dan membayar airport tax. Proses check-innya itu yang lama, karena banyaknya koper yang harus ditimbang. Tapi semua lancar-lancar saja.
Setelah membagikan boarding pas yang sudah ditempeli stiker lunas airport tax, rombongan mulai berpamitan. Ada beberapa yang mengucapkan terima kasih. Dengan senang hati saya menerima ucapan tersebut. Tapi apa yang dilakukan seorang anggota rombongan membuat saya pucat pasi. Dia memberikan salam tempel pada saya.
“Ini, Pak,” kata ibu itu.
“Apa ini, Bu?” tanya saya. Bentuknya sih amplop ya, saya tahu itu. Tapi siapa tahu dalemnya bukan seperti yang saya bayangkan. Soalnya, sebelumnya juga saya sudah diberi kaus oleh koordinator rombongan, waktu dia dan beberapa anggota rombongan datang ke KBRI pada hari itu untuk mengurus sesuatu. Dan juga di hotel saya diberi bungkusan yang isinya saya yakin bukan uang (lokal staff yang ikut dengan saya mengira isinya jaket, belakangan saya buka di apartemen isinya adalah kain dari suatu tempat di Indonesia Timur yang ingin saya datangi sejak lama).
“Ini, Pak. Terima kasih karena sudah membantu kami,” begitu kira-kira jawabnya.
Saya langsung histeris dibuatnya, “Huaaa…! Jangan Ibu, terima kasih. Gak usah Ibu.” Saya langsung memberikan amplop itu kembali kepadanya. Dia masih mencoba meyakinkan saya untuk menerima. Saya kekeuh tidak mau.
“Gimana nih, Pak?” tanya Ibu itu ke seorang bapak. Bapak itu mengambil amplop itu dari si Ibu, dan kembali memberikannya pada saya.
Saya masih menolak, “Waduh, jangan Pak. Kami gak boleh menerima ini.”
“Gak apa-apa…” Kata Bapak itu.
“Buat itu, uang rokok,” seru yang lain.
“Saya gak merokok, Pak,” jawab saya sempat-sempatnya.
“Buat itu,” seseorang lagi memberikan isyarat dengan kepalanya yang saya interpretasikan buat local staff yang ikut saya dan supir-supir yang mengantar mereka.
Baru saya mau menolak lagi, seorang mengatakan, “Udah, ga apa-apa. Terima saja.”
Mendengar itu, saya takut juga mereka tersinggung. Ya udah, akhirnya saya ambil, saya kantungi sambil mengucapkan terima kasih. Saya antar mereka sampai melewati imigrasi. Tapi sepanjang itu pula pikiran saya berkecamuk.
Ambil? Jangan? Diapain ini uang? Ambil sendiri? Bagi-bagi?
Setelah semua melalui security check point dan kami menuju mobil, saya kepikiran untuk memberikan semuanya pada local staff yang ikut saya itu.
“Nih, buat lu,” kata saya sambil mengeluarkan amplop itu dari kantung, “Bagi lima ya…” ujar saya sambil menyebutkan nama-nama local staff dan supir yang sudah membantu saya mengurusi rombongan ini. Gak tahu deh seorang dapet berapa, karena amplopnya sama sekali ga saya buka.
Mungkin saya salah telah menerima amplop itu. Saya masih harus belajar menolak sesuatu seperti itu tanpa khawatir membuat yang memberi kecewa atau tersinggung. Mungkin juga sebenarnya tidak apa-apa menerima pemberian seperti itu. Toh, saya tidak pernah minta, karena saya merasa cuma melakukan pekerjaan saya.
Cuma saya benar-benar merasa ada yang salah kalau itu saya terima. Tentu saja ada bagian hati yang berteriak, “Asiiiik! Dapet uang!” Tapi kayaknya itu datang dari bagian hati saya yang rakus dan kemaruk. Bagian yang baik-baik, yang idealis, yang bener, teriaknya, “Jangaaaan! Jangaaaan diambil!”
Bagian itulah yang membuat saya mengambil karena merasa takut membuat si pemberi tersinggung, dan bagian itu juga yang mendorong saya untuk memberikan semuanya pada mereka yang telah membantu saya mengurus rombongan tersebut.
Mudah-mudahan, apa yang saya lakukan bukan menolak rezeki. Dan saya harus tetap yakin bahwa rezeki saya bukan berupa amplop-amplop seperti itu.
Permintaan mereka sih standar saja, jemputan waktu mereka datang di bandara, booking hotel untuk menginap mereka dan jemputan waktu mereka akan ke bandara. Sebenarnya untuk yang terakhir mereka ternyata sudah berniat untuk menyewa sebuah bus kecil, tapi karena KBRI memang telah menjadwalkan akan mengantar mereka ke bandara dengan mobil kedutaan dan didampingin staf dari Protokol dan Konsuler, maka mereka membatalkan niat tersebut dan tentu saja menyambut gembira niat baik KBRI dalam memudahkan perjalanan mereka.
Jadi, itulah yang saya lakukan. Tiga hari sebelum mereka datang, saya membooking kamar hotel untuk rombongan yang cukup besar tersebut. Rombongan ini adalah yang terbesar yang pernah saya lihat dalam masa tugas saya yang memang baru sebentar ini di Manila. Belakangan saya diberitahu oleh seorang local staff Protkons bahwa dia pernah menangani rombongan beranggotakan 72 orang! Mampus dah gua ngebayanginnya juga.
Anyway, kembali ke cerita utama, pada hari kedatangan, saya pun menjemput mereka dengan seorang local staff Protkons ke bandara. Kami datang rada telat, karena ketika kami sampai mereka baru saja keluar dari pintu kedatangan. Biasanya, tamu akan dijemput di dalam terminal, karena para staf protkons memiliki ID Card khusus yang membuat mereka diperbolehkan masuk sampai daerah yang tidak boleh dimasuki tanpa ID tersebut.
Biasanya, staf Protkons akan membantu mengurus pengambilan bagasi, bahkan sampai mengurus imigrasi kalau tamunya datang dari luar Filipina. Seperti waktu saya tiba di Manila, staf protkons yang menjemput di dalam terminal langsung meminta paspor saya dan dia yang mengurus semuanya. Di imigrasi pun kami lancar, selain karena memang pemegang paspor diplomatik diberikan jalur khusus (pemegang paspor biasa mengantri di counter imigrasi).
Nah, kembali ke cerita, kami waktu itu terlambat, jadi mereka sudah keluar dari gerbang kedatangan. Untung saja saya melihat seragam mereka. Kemungkinan besar yang memakai seragam seperti itu ya rombongan Indonesia, jadi saya hampiri dan tegur salah seorang memakai Bahasa Indonesia. Ternyata benar itu adalah mereka.
Berikutnya semua koper masuk mobil dan kami pun berangkat ke hotel. Di hotel, saya dan local staff itu tetap di sana sampai memastikan bahwa semua akan kebagian kamar. Ada lima kamar yang belum dapat ditempati karena pemakainya belum check-out, jadi untuk sementara ada yang menampung teman-temannya di kamarnya. Tapi pada umumnya semua sudah bisa dipastikan tidak akan terlantar. Setelah memberikan kartu nama saya pada koordinator lapangannya, saya dan local staff itu pun kembali ke KBRI. Hari itu berakhirlah cerita saya dengan rombongan tersebut.
Besoknya, jam 05.30 sore saya menjemput ke hotel dengan local staff Protkons yang berbeda. Setelah memastikan semua barang terangkut, kami berangkat menuju bandara. Di sana saya dan local staff itu membantu mereka check-in dan membayar airport tax. Proses check-innya itu yang lama, karena banyaknya koper yang harus ditimbang. Tapi semua lancar-lancar saja.
Setelah membagikan boarding pas yang sudah ditempeli stiker lunas airport tax, rombongan mulai berpamitan. Ada beberapa yang mengucapkan terima kasih. Dengan senang hati saya menerima ucapan tersebut. Tapi apa yang dilakukan seorang anggota rombongan membuat saya pucat pasi. Dia memberikan salam tempel pada saya.
“Ini, Pak,” kata ibu itu.
“Apa ini, Bu?” tanya saya. Bentuknya sih amplop ya, saya tahu itu. Tapi siapa tahu dalemnya bukan seperti yang saya bayangkan. Soalnya, sebelumnya juga saya sudah diberi kaus oleh koordinator rombongan, waktu dia dan beberapa anggota rombongan datang ke KBRI pada hari itu untuk mengurus sesuatu. Dan juga di hotel saya diberi bungkusan yang isinya saya yakin bukan uang (lokal staff yang ikut dengan saya mengira isinya jaket, belakangan saya buka di apartemen isinya adalah kain dari suatu tempat di Indonesia Timur yang ingin saya datangi sejak lama).
“Ini, Pak. Terima kasih karena sudah membantu kami,” begitu kira-kira jawabnya.
Saya langsung histeris dibuatnya, “Huaaa…! Jangan Ibu, terima kasih. Gak usah Ibu.” Saya langsung memberikan amplop itu kembali kepadanya. Dia masih mencoba meyakinkan saya untuk menerima. Saya kekeuh tidak mau.
“Gimana nih, Pak?” tanya Ibu itu ke seorang bapak. Bapak itu mengambil amplop itu dari si Ibu, dan kembali memberikannya pada saya.
Saya masih menolak, “Waduh, jangan Pak. Kami gak boleh menerima ini.”
“Gak apa-apa…” Kata Bapak itu.
“Buat itu, uang rokok,” seru yang lain.
“Saya gak merokok, Pak,” jawab saya sempat-sempatnya.
“Buat itu,” seseorang lagi memberikan isyarat dengan kepalanya yang saya interpretasikan buat local staff yang ikut saya dan supir-supir yang mengantar mereka.
Baru saya mau menolak lagi, seorang mengatakan, “Udah, ga apa-apa. Terima saja.”
Mendengar itu, saya takut juga mereka tersinggung. Ya udah, akhirnya saya ambil, saya kantungi sambil mengucapkan terima kasih. Saya antar mereka sampai melewati imigrasi. Tapi sepanjang itu pula pikiran saya berkecamuk.
Ambil? Jangan? Diapain ini uang? Ambil sendiri? Bagi-bagi?
Setelah semua melalui security check point dan kami menuju mobil, saya kepikiran untuk memberikan semuanya pada local staff yang ikut saya itu.
“Nih, buat lu,” kata saya sambil mengeluarkan amplop itu dari kantung, “Bagi lima ya…” ujar saya sambil menyebutkan nama-nama local staff dan supir yang sudah membantu saya mengurusi rombongan ini. Gak tahu deh seorang dapet berapa, karena amplopnya sama sekali ga saya buka.
Mungkin saya salah telah menerima amplop itu. Saya masih harus belajar menolak sesuatu seperti itu tanpa khawatir membuat yang memberi kecewa atau tersinggung. Mungkin juga sebenarnya tidak apa-apa menerima pemberian seperti itu. Toh, saya tidak pernah minta, karena saya merasa cuma melakukan pekerjaan saya.
Cuma saya benar-benar merasa ada yang salah kalau itu saya terima. Tentu saja ada bagian hati yang berteriak, “Asiiiik! Dapet uang!” Tapi kayaknya itu datang dari bagian hati saya yang rakus dan kemaruk. Bagian yang baik-baik, yang idealis, yang bener, teriaknya, “Jangaaaan! Jangaaaan diambil!”
Bagian itulah yang membuat saya mengambil karena merasa takut membuat si pemberi tersinggung, dan bagian itu juga yang mendorong saya untuk memberikan semuanya pada mereka yang telah membantu saya mengurus rombongan tersebut.
Mudah-mudahan, apa yang saya lakukan bukan menolak rezeki. Dan saya harus tetap yakin bahwa rezeki saya bukan berupa amplop-amplop seperti itu.
Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia.
1187: E-mail dari Dosen
Ingat kasus saya dikirimi e-mail oleh "bokap" dari London? Klik di sini nih untuk membaca kasus itu.
Kalau mau tahu pendapat saya sih, dia mendingan tetep pake bahasa Inggris deh... Bahasa Indonesianya ngacak gitu, hehehehe... I mean... yang benar saja... "SAYANG"??? Hahahaha...
Nah, saya mendapatkan kasus serupa hari ini. Hanya saja, sekarang dia sudah lebih canggih, menggunakan alat bantu Google Translate kayaknya. Kali ini datangnya dari "dosen S-2" saya. Masuk ke spam sih, tapi kebetulan saya lagi cek-cek spam, eeeh... ketemu e-mail ini. Ini nih saya copas:
Sayang,
Bagaimana kabarmu hari ini, berharap semuanya baik-baik, Maaf mengganggu Anda sekarang tapi benar-benar dalam situasi yang buruk di sini sebagai saya tidak pernah mengharapkan situasi ini.
Aku pergi ke London untuk sebuah program yang kira hanya berlangsung selama empat hari.
Sayangnya bagi saya i was serangan oleh perampok bersenjata, yang meninggalkan aku tanpa uang, i am bahkan karena hotel di sini, saya telah menghilangkan dari banyak fasilitas, saya hanya memiliki akses melalui email, bisa tolong pinjami saya £1.420, atau jumlah yang Anda mampu, sehingga saya dapat melunasi utang dan pergi, saya akan sangat menghargainya.
Aku akan mengembalikannya kembali kepada Anda segera setelah saya sampai di rumah. Aku sangat bingung benar dan teratur.
Saya telah berbicara kepada manajemen hotel untuk tolong beri aku beberapa jam untuk membayar utang saya, Kindly cepat mencari cara apapun seperti transfer uang serikat barat atau uang garm dan mengirim uang melalui informasi di bawah ini,
Penerima Nama: A M A (aslinya ini nama lengkap dosen saya itu -red-)
Alamat: The City Hotel
12 Osborn Street,
London, E1 6TE
UK
Please reply dengan informasi berikut, nama dan alamat pengirim, jumlah yang dikirim MTCN, dan teks dalam pertanyaan dan jawaban.
Aku sedang menunggu mati-matian untuk mendengar dari Anda segera sehingga aku tahu bahwa iman dan langkah berikutnya.Salam hormat,
A M A
Subscribe to:
Posts (Atom)







